Bumiku

Bumiku

  • WpView
    Lectures 26
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., avr. 28, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"Bumi butuh manusia seperti kamu nat,bumiku" Memang sedang semarah itu pada semesta dan penduduknya, gadis berkaca mata dan berbadan gempal itu tidak pernah berharap ada penduduk di buminya. Sudah cukup kecewa yang mendalam, yang ia tahan agar tidak menjadi dendam. Lalu ketika hatinya ditekan di titik kelemahannya hingga buminya hendak runtuh. Seorang laki-laki pemilik pena biru menuliskan, "Semesta akan tetap hidup walau kamu membencinya, kehidupan penduduknya pun akan tetap berkelanjutan. Termasuk juga orang yang kamu benci, ia akan tetap hidup" Ini tentang pertanyaan dia adalah peracik obat paling mujarab atau malah pencipta luka terhebat. Karna satu yang Nafa lakukan, berharap.
Tous Droits Réservés
#945
putusasa
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Dear of Natasya
  • Menyerah atau Bertahan?
  • YOUNIVERSE (Tahap Revisi)
  • [Complete] Fate in Chains
  • Lost in Reverie [Moqeel]
  • The Reason ✔️
  • NAKALA DAN TAWANYA
  • RIRI NATARI [END]

"Aku tersenyum bukan karena bahagia, tapi karena aku tak ingin kalian melihat aku runtuh." - Natasya Kirana Maharani Natasya Kirana Maharani, seorang gadis 14 tahun yang tampak ceria di luar, menyimpan lautan luka di dalam dirinya. Ia hidup di antara ketiadaan kasih sayang keluarga, dikhianati oleh satu-satunya cinta yang ia percayai, dan terjebak dalam gelapnya lorong kesehatan mental yang terus menghantuinya. Meski dunia seperti runtuh, Natasya masih bisa tersenyum. Ia mendirikan komunitas kecil di sekolah bernama Langit yang Menangis Diam-Diam, tempat di mana anak-anak lain yang juga terluka bisa menuliskan isi hati mereka tanpa takut dihakimi. Komunitas itu menjadi suara bagi mereka yang sunyi, menjadi bahu bagi mereka yang diam-diam ingin menyerah. Namun, tidak semua orang menyukai kejujuran. Komunitas itu mendapat serangan, hujatan, bahkan dihancurkan. Sahabat menjauh, pacar memilih diam, dan luka-luka lama kembali terbuka. Natasya terus bertahan. Ia terus menulis. Terus meyakinkan orang lain bahwa mereka layak hidup, meski hatinya sendiri sudah lama remuk. Hingga pada suatu malam, ketika tak ada lagi pelukan yang cukup hangat, ketika suara-suara di kepalanya terlalu bising, dan ketika senyumnya tak lagi mampu menahan air mata... Natasya memutuskan untuk meninggalkan dunia yang tak pernah benar-benar menerima keberadaannya. Ia meninggalkan surat terakhir di ruang komunitas yang dulu ia bangun: "Aku lelah menjadi kuat. Tapi aku ingin kalian tahu: kalian layak hidup, bahkan saat aku memilih berhenti." ---

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu