PULANG

PULANG

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 8, 2024
Pulang. Aku ingin pulang tapi aku gak punya tempat untuk pulang. Ketika Rumah bukan lagi tempat nyaman untukku pulang. Aku ingin pulang tapi bukan ke rumah melainkan ke suatu tempat yang jauh dimana, disana aku akan merasakan kebahagiaan yang abadi, karena selama di dunia aku belum pernah merasakan apa itu yang namanya kebahagiaan. Kisah seorang gadis yang banyak menyimpan luka kemudian ia bertemu dengan seorang laki-laki yang juga banyak menyembunyikan luka, mereka yang sama-sama terluka mencoba menguatkan satu sama lain ketika dunia benar-benar tidak berpihak kepada mereka. Akan kah keduanya merasakan makna dari kata "akan indah pada waktunya?" Entahlah aku juga tidak mengetahuinya. Akankah mereka akan membuat diri mereka menjadi tempat pulang satu sama lain, mungkin bukan untuk menyembuhkan luka yang di miliki melainkan untuk sejenak melupakan luka yang tersimpan di dalam hatinya.
All Rights Reserved
#980
takut
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • To Heal
  • Kita Sembuh Bareng?
  • Segitiga Bermuda
  • Menyerah atau Bertahan?
  • My beloved, My home
  • Rainie ( END )
  • 𝐀𝐁𝐎𝐔𝐓 𝐊𝐄𝐘𝐋𝐀 [𝐄𝐍𝐃]
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines