Just Me

Just Me

  • WpView
    Reads 568
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 11, 2022
Hinaan dan ejekan dari teman-teman sekelasnya, sudah biasa Nayara dapatkan. Entah itu perihal fisik, maupun ekonomi. Sakit memang, namun Naya lebih memilih diam, hingga ia mulai terbiasa dengan hinaan dan ejekan itu. Bahkan hingga darahnya tumpah, ia masih tak peduli. Hingga suatu tragedi membuatnya menjadi seseorang yang sangat berbeda. Ganas dan beringas, itu yang orang fikirkan tentang perubahan Nayara. "Mereka hanya setumpukan tulang berlapis kulit yang tidak berguna. Apakah ada hal yang lebih baik bagi mereka, selain mati?"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • To Heal
  • MEET AFTER PARTINGE
  • Waktu?
  • 𝐀𝐁𝐎𝐔𝐓 𝐊𝐄𝐘𝐋𝐀 [𝐄𝐍𝐃]
  • [1] LUKA SEMESTA [END]
  • Menyerah atau Bertahan?
  • LUKA✔
  • You And Me, Can We? [On Going]
  • Rumah Tanpa Atap
To Heal

Luka yang tak terlihat seringkali lebih menyakitkan daripada yang tampak. Alira hidup dengan dendam dan kebencian yang tak pernah padam, terutama kepada ayahnya-orang yang telah merenggut ibunya. Diasuh oleh keluarga yang memperlakukannya berbeda, ia tumbuh menjadi gadis yang dingin, keras, dan tak ingin bergantung pada siapa pun. Namun, segalanya berubah ketika Aidan kembali ke hidupnya. Sahabat kecilnya yang dulu ia anggap telah menghilang kini berdiri di hadapannya, membawa cahaya yang nyaris padam dalam dirinya. Aidan tak hanya ingin kembali berteman-ia ingin mengubah Alira, membuatnya percaya bahwa luka bisa sembuh dan masa lalu tak harus selalu menjadi beban. Tapi, bisakah seseorang benar-benar pulih dari luka yang sudah terlalu dalam? Ataukah Alira akan tetap terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya? Di tengah konflik keluarga, geng sekolah yang menambah kekacauan, serta perasaan yang mulai berubah, Alira harus menemukan jawabannya sendiri. Karena terkadang, perjalanan untuk pulih justru lebih menyakitkan daripada lukanya sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines