SWITCH BUTTON [Selesai]

SWITCH BUTTON [Selesai]

  • WpView
    Membaca 1,240
  • WpVote
    Vote 234
  • WpPart
    Bab 30
WpMetadataReadLengkap Rab, Agt 21, 2024
Jika seseorang ingin tahu rasanya mati, maka tanyakan saja pada Nick. Remaja itu bahkan tidak menyangka bahwa mati tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Namun, dalam hitungan detik, ia baru menyadari bahwa kenyataan yang harus dihadapi setelah ia bangun dari kematian sama sekali di luar dugaannya. Hanya dua hal yang remaja itu ingat pasca terbangun dari kematian, dirinya sendiri dan tempat tinggalnya. Nick sama sekali tidak tahu bagaimana ceritanya ia tiba-tiba bisa berada di belahan benua lain dan sempat divonis tewas. Nick berusaha mengingat, tapi ia tidak mendapati rekam jejak memori apa pun di otaknya. Perlahan, Nick menyadari bahwa otak yang berada di kepala ini bukanlah miliknya, tidak terkecuali seonggok jasad yang turut memerangkap jiwanya. Switch Button Namiso | © 2024 All Rights Reserved Cover by @na_miso
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#13
psikotik
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Sudut Luka Nazea
  • Avyan (End) ✓
  • 𝐄𝐒𝐊𝐀𝐏𝐈𝐒𝐌𝐄
  • RECAKA
  • TIRANI AVEGON
  • Red String
  • Bayangan di Balik Sekolah
  • 𝐀𝐍𝐎𝐍𝐈𝐌 [𝐖𝐇𝐎'𝐒 𝐈𝐍 𝐓𝐇𝐄 𝐖𝐀𝐓𝐄𝐑?]

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan