Air (Tahap Revisi I)

Air (Tahap Revisi I)

  • WpView
    Reads 145
  • WpVote
    Votes 29
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 20, 2022
Rilis; 8 Mei 2022 "Mak, tadi Alan ditanyain Bu Guru tentang cita-cita. Bukannya itu masih jauh ya? Ya udah, Alan bilang Alan gak punya cita-cita. ..... Bukannya hidup itu untuk senang-senang, Mak? Orang-orang bilang "Laif is por pan" (author: Life is for fun) kan? Kalau cita-cita urusan belakang saja." "Iya, senang-senang memang boleh Lan. Tapi masa depan itu harus direncanakan, supaya kamu bisa jadi versi terbaik dirimu sendiri. Harus direncanakan supaya kamu bisa jadi 'orang'." "Kan Alan udah jadi orang sekarang? Masa Alan itu alien?" "Jadi 'orang' yang Mak maksud bukan itu. Jadi "orang" itu, nantinya Alan bisa mandiri, bisa mengambil keputusan, bisa berdiri sendiri sepenuhnya tanpa dukungan Mak lagi. Dan.. gak harus diteriakin lagi sama Emak buat mandi. Karena pada suatu saat, Emak gak bisa nemanin kamu lagi." "Tapi Mak, menurut Alan hal itu kita jalanin aja. Nanti juga Alan kalau udah dewasa bakal jadi mandiri." "Dewasa itu tak sepenuhnya ditentukan dari umur kamu, Lan. Dewasa yang sesungguhnya ditentukan oleh mental kita, bagaimana kita memandang dunia, mengatasi masalah, berinteraksi dengan orang lain, dan banyak lagi. Alan, Alan... Nanti kalau Emak udah gak ada, kamu harus hidup sendiri, gimana? Umur Emak ini titipan dari Tuhan, kalau Tuhan mau manggil Emak, Emak bisa apa?" Disclaimer: Segala tokoh, tempat, kejadian semua adalah imajinasi pengarang.
All Rights Reserved
#51
penulispemula
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Maybe Tomorrow : Penyesalan (On Going)
  • [As3] Cerita Aku, Kamu Dan Kita
  • Mentari Tak Harus Bersinar (Dokter-Dokter)MASIH LENGKAP
  • Retrocession (PUBLISHED)
  • Behind The Smile (TERBIT)
  • Dependency ✓ [Sudah Terbit]
  • Cinta Berbalut Puisi
  • SHANA (SELESAI)

Dunia ini sangat keras dengan perempuan, apalagi bila di masa lalunya terdapat sebuah aib besar 🌟🌟🌟 Mengandung di usia muda karena gaya berpacarannya yang bebas, Zia otomatis menghancurkan kehidupannya sendiri. Mulai dari kehilangan orang tua, berhenti sekolah dan dicemooh orang - orang sekitar, perlahan dia terima usai aibnya itu terkuak. Belum lagi kekasihnya, Elang yang tidak mau bertanggung jawab membuat hidup dia semakin sulit. Seiring bertambahnya usia wanita itu, karena menjadi orang tua tunggal tidaklah mudah, Zia mulai bertekad mencari ayah untuk sang buah hati. 'Hanya bisa menerima masa lalunya' cukup dengan satu syarat tersebut siapapun orangnya pasti akan dia terima, pikirnya. Sempat yakin akan ide tersebut, saat dijalani ternyata Zia justru cuma mendapat luka yang lebih alih - alih calon suami, sebab tak semua lelaki bisa menerima masa lalu buruk pasangannya, begitupun keluarga mereka. "Tentu, aku ingin bahagia, tapi bila mereka terus mempermasalahkan masa lalu apa aku perlu mempertahankan keinginanku untuk menikah?" - Zia Cassiopeia "Jangan menyukaiku, lukaku belum kering, kamu bisa saja ikut menderita karenanya!" - Raden Elang Aghastya "Semua orang punya masa lalu yang buruk, gak terkecuali aku, jadi gakpapa mencoba bangkit lagi dengan bantuan orang lain dan berharap bahagia!" - Garuda Biantara "Aku janji gak akan menuntut apapun darimu, aku bicara begini hanya mau kamu tahu perasaanku selama kita saling berinteraksi dan bertemu supaya aku gak canggung lagi!" - Luna Rea Nanda

More details
WpActionLinkContent Guidelines