PAMIT
  • WpView
    Membaca 12
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Mei 12, 2022
Judul Novel : Pamit Oleh : Agil Hanafi Keluarga yang datang melihat kelahiran Hadi menaruh penuh harap dari mereka ingin dari anak pertama dari orang tua Hadi dan juga cucu pertama kakek dan nenek, akan merubah nasib mereka kelak nanti. Dari suara tangisan bayi pertama dan tawa bahagia atas kelahiran Hadi sebagai permulaan dalam kisah bayi laki-laki ini. Marlin adalah sosok ayah yang penyabar dan sayang kepada istri dan anaknya, Marlin bekerja sebagai buruh nelayan di pedesaan pinggir pantai yang amat elok dan di kelilingi perbukitan, lerengnya ditumbuhi oleh persawahan yang hijau elok mata memandang di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat tempat Marlin tinggal dengan istri dan anaknya Hadi, kehidupan Marlin masa sekolah dulu tidak sama dengan saat ini, Marlin dan orang tuanya mempunyai banyak sawah dan kebun Sawit, semua itu habis setelah pengobatan Ayahnya Marlin yang sakit parah hingga dirujuk ke Rumah Sakit di Jakarta, tanpa ada kartu BPJS yang digunakan, saat itu sebelum menjual semua yang dimiliki, Marlin meminjam uang ke Bank namun karena kebutuhan yang sangat banyak dan biaya operasi yang sangat luar biasa biayanya, akhirnya semuanya dijual dan tidak ada lagi yang tersisa, dari waktu itu Marlin dan keluarga hidup dalam ekonomi yang sangat serba susah sekali, hingga sampai Marlin bertemu dengan Weriska.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#277
hebat
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • OUR FAMILY [SJY&KMJ]
  • My Husband ♡ [COMPLETED]
  • Surat tak berbalas
  • Senorita in Trouble
  • Girl's
  • CEZALINE
  • TRANSMIGRASI QUEENZILLA ( On Going )
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • COLD BLOODED ANGEL

Menceritakan tentang satu keluarga yang begitu harmonis. "Lala tidak suka suara berisik Wira, menganggu." ucap seorang gadis kecil yang masih berusia tujuh tahun, Nada bicara nya biasa saja tetapi menusuk "Wira kan tidak bisu, Kalau Lala tidak suka keributan ya pergi saja sana!" jawab seorang anak laki-laki yang seusia dengan Lala. mereka kembar, tentu saja. "Berantem terus sih, Lala jangan begitu ya. Wira juga, saling maaf-maafan dulu" ucap ibunda- Sabila lula- mencoba menengahi pertengahan kedua bocah di hadapannya. tetapi Lala malah menaruh kedua tangan nya di depan dada dengan bibir maju beberapa centi "Kalau gamau maaf-maafan, Ayah engga mau beliin alat-alat lukis dan mainan buat kalian lagi." Ucap ayahanda- Jack Bert Wijaya- terdengar serius. Si kembar lantas saling pandang, dan yang pertama mengulurkan tangan adalah Wira. karena bocah itu takut sekali jika tidak di belikan mainan, menurutnya mainan itu separuh hidup nya. "Nah, begitu kan enak dilihat" Sabila dan Jack kompak tersenyum melihat kedua anak nya kembali akrab dan suasana terasa hangat. ⚠️LANJUTAN CERITA 'JATUH CINTA' ⚠️ Usahain baca cerita 'Jatuh Cinta' lebih dulu ya, tapi kalau engga mau juga ga masalah karena di cerita ini komplit. Tapi usahain yaa.. itung-itung bantu ramein cerita itu, hehe

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan