Judul Novel : Pamit
Oleh : Agil Hanafi
Keluarga yang datang melihat kelahiran Hadi menaruh penuh harap dari mereka ingin dari anak pertama dari orang tua Hadi dan juga cucu pertama kakek dan nenek, akan merubah nasib mereka kelak nanti. Dari suara tangisan bayi pertama dan tawa bahagia atas kelahiran Hadi sebagai permulaan dalam kisah bayi laki-laki ini.
Marlin adalah sosok ayah yang penyabar dan sayang kepada istri dan anaknya, Marlin bekerja sebagai buruh nelayan di pedesaan pinggir pantai yang amat elok dan di kelilingi perbukitan, lerengnya ditumbuhi oleh persawahan yang hijau elok mata memandang di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat tempat Marlin tinggal dengan istri dan anaknya Hadi, kehidupan Marlin masa sekolah dulu tidak sama dengan saat ini, Marlin dan orang tuanya mempunyai banyak sawah dan kebun Sawit, semua itu habis setelah pengobatan Ayahnya Marlin yang sakit parah hingga dirujuk ke Rumah Sakit di Jakarta, tanpa ada kartu BPJS yang digunakan, saat itu sebelum menjual semua yang dimiliki, Marlin meminjam uang ke Bank namun karena kebutuhan yang sangat banyak dan biaya operasi yang sangat luar biasa biayanya, akhirnya semuanya dijual dan tidak ada lagi yang tersisa, dari waktu itu Marlin dan keluarga hidup dalam ekonomi yang sangat serba susah sekali, hingga sampai Marlin bertemu dengan Weriska.
Tak ada hal yang harus Carla tolak jika dia datang kembali. Walau sudah berulang kali perjuangannya tidak dihargai. Jika dia menolak. Mungkin itu adalah hal paling bodoh selama 3 tahun ini dia perjuangkan dan menunggu. Laki-laki itu datang tanpa keberanian. Hanya dengan rangkaian bunga sebagai sosok dirinya dan selembar kertas sebagai mulutnya.
Betapa bahagia Carla. Tuhan baik kepadanya setelah kenyataan mengikhlaskan kedua orangtuanya untuk pergi selama-lamanya. Laki-laki yang dia cintai selama ini, kini selalu bersamanya. Menggantikan sosok kedua orangtua. Walau memang tak sepenuhnya. Namun jika dia mendapat pilihan. Pertama, kehilangan kedua orangtua tetapi apa yang telah ditunggu datang. Kedua, orang yang telah ditunggu-tunggu tidak pernah datang, namun sosok kedua orangtua ada selalu untuknya. Tanpa berpikir dua kali, dia akan memilih yang pertama. Namun apa boleh buat, jika takdir berkata lain. Ketika dia harus menerima kenyataan kedua.
Semua itu terjadi. Carla memutuskan untuk hidup sebatang kara. Ketimbang dia ikut dengan abang dan adiknya. Dia lebih senang di Indonesia walau sendiri. Karena hanya rumah yang ditempatinya kini pernah merasakan kekeluargaan.
Takdir berjalan lagi lebih cepat. Tuhan mengambil semua miliknya. Orang yang dia sayang dan begitupun dengan ingatannya. Semua begitu cepat berubah hanya dalam waktu beberapa bulan. Semua kehidupannya berubah. Kini dia tinggal bersama keluarga kecilnya.
Selalu ada kebahagiaan dibalik kesedihan yang mendalam. Dengan hadirnya seseorang yang begitu cepat mencintai Carla dengan sepenuh tanpa dia sadari. Namun marahnya tak bisa dia kendali saat tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi kurang lebih 1 tahunn lalu. Betapa pahit rasanya mengetahui apa yang terjadi.
Kemarahan itu Carla lampiaskan kepada semuanya. Keluarga keciln dan orang yang sepenuh hati membantunya untuk sembuh dan berusaha membahagiakannya. Sampai akhirnya kesadaran dia rasakan. Setelah kehilangan itu terjadi. Namun Tuhan ................