Story cover for One Punch by nanamikoi
One Punch
  • WpView
    Reads 101
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 8
  • WpView
    Reads 101
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 8
Ongoing, First published May 13, 2022
Mature
Harian adalah anak laki-laki biasa, dari kalangan rakyat biasa yang sekolah disekolah biasa. miskin sejak lahir, pendek, lemah, memiliki badan kurus juga wajah yang kusam. tak heran kalau ia selalu dibully di sekolahnya.

hidupnya penuh dengan beban penderitaan, ia harus merawat ibunya yang sedang sakit dan membayar rumah sakit setiap bulannya, membayar hutang setiap bulan yang tak sedikit, juga ia harus bekerja paruh waktu sehabis pulang sekolah untuk membayar itu semua.

kalian fikir ia mengeluh? tentu saja tidak. kita fikir itu sangat melelahkan bahkan saat diusiannya yang masih sangat muda sudah menanggung beban seperti orang dewasa.

Harian, 16 Tahun. Berada di kelas 2, SMK Sumpah Pemuda. Suatu hari ia harus belajar bagaimana caranya melawan dan bertarung.
All Rights Reserved
Sign up to add One Punch to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 8
DUNIA HAMPA cover
Setengah Waras, Sepenuh Sayang | TXT cover
If I Have You Only cover
COOL BOY VS BAD GIRL cover
𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓 𝐀𝐃𝐌𝐈𝐑𝐄𝐑 {𝐒𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐮𝐧𝐠} cover
Constellations From The Room cover
Top On You《END》 cover
Young Papa cover

DUNIA HAMPA

14 parts Ongoing

Hampa, kata itu menjadi hal yang ada di benaknya setiap kali ia pulang ke 'rumah' miliknya. Tak ada niatan baginya, untuk sekedar membuat rumahnya lebih berwarna lagi. Dunianya terasa hampa, setiap kali ia ingin mengeluh. Ia kebingungan, mencari tempat untuk bersandar, dan bercerita tentang hari-harinya yang sulit. 'Rumah' miliknya memang selalu berbeda, di sana sunyi. Di sana tidak terasa seperti ada kehidupan sedikit pun, hampa. Bahkan 'rumah' yang dikatakan orang-orang sebagai tempat pulang itu, tak sama baginya. 'Rumah' yang dianggap sebagai dunia kasih sayang bagi orang-orang, juga tak sama baginya. Semuanya bohong, semua tentang dirinya. Yang katanya menjadi kebanggaan bagi semua orang, tanpa ada kekurangan. Berjuta-juta lara tak pernah absen dari dirinya, seakan-akan seperti tidak ada detik tanpa kebohongan baginya. Sampai kapan, ia harus merasakan semua kesunyian ini? Kapan, kehampaan ini akan usai? Di mana, ia bisa mengekspresikan dirinya, selayaknya remaja pada umumnya?