PUSALA: the Third Gen (slow update)

PUSALA: the Third Gen (slow update)

  • WpView
    Leituras 122
  • WpVote
    Votos 21
  • WpPart
    Capítulos 6
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização qua, jul 27, 2022
WpInfo
Fanfic
Delapan pemuda yang diberi "mukjizat" berkumpul dan bersatu untuk melindungi Batavia dari suatu musibah yang membuatnya semakin 'terbelakang'! Ah, tapi apakah perjuangan mereka hanya sebatas melindungi ibukota? (Semi-fanfiksi ini diupdate sangat lambat; ilustrasi dimasukkan belakangan) Tidak disarankan, bahkan dilarang untuk dipublikasikan, meng-screenshot, atau menggandakan karya ini di luar izin dan kuasa penulis. Disclaimer: Segala konten di sini tidak ada sangkut-pautnya dengan kejadian nyata. PUSALA © kekkonnichiwa. #1 in "kompas" #620 in "un1ty" T-Rated, Superhero-Slice of Life-Tragedy-Fantasy-Teenfic, (Semi Fan and) Song Fiction.
Todos os Direitos Reservados
#3
semifanfiction
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)
  • FONXITA
  • ANTAGONIST GOT ME
  • EIGHT
  • Titik Nadir
  • Perfect Hero
  • Ekstrovert & Introvert [SELESAI✔️]
  • Love Letters [END]
  • RASKAY : We Are Friend ? You Okay With That ? [END] ✅

Tepat di depan mata. Raiya seakan membeku disana, matanya nggak terlepas dari mobil yang baru saja terlempar tepat di depannya. Entah kenapa keadaan seolah semakin mendramatisir, hujan turun dengan derasnya sore itu, memadamkan api yang berasal dari ledakan mobil di depannya. Suara sirine ambulans saling bersautan dengan suara sirine mobil polisi, keadaan semakin kacau. Beruntung, yah Raiya bersyukur seseorang yang berada di dalam mobil itu sudah diselamatkan sebelum mobil meledak. Dan seketika itu pula, tubuh Raiya langsung limbung terjatuh begitu saja, isakan tangisnya semakin jelas terdengar meski di bawah guyuran hujan. Satu patah kata pun nggak bisa terucap, ingin sekali dia menghampirinya yang sudah berada di mobil ambulans, tapi kakinya masih saja membeku di tempat. Hanya sesak yang terasa. "Kak Chi-ko ...." "Dia nggak akan kenapa-kenapa! Ayo Ray, gue anter pulang sekarang!" ajak paksa seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di belakang Raiya, tapi Raiya hanya bergeming. Seseorang itu samasekali nggak menduga kalau hal semacam ini akan terjadi. Liontin yang ada di genggamannya seketika terlepas begitu melihat mobil lamborgini hitam yang sangat dia kenal terlempar begitu saja di depan Raiya. Dia dekap Raiya ke pelukannya, menatap nanar ke mobil yang sudah nggak berwujud itu. Hanya satu yang ada di pikirannya saat itu, penyesalan. "Kak Chiko, itu Kak Chiko, nggak, nggak, itu bukan Kak Chiko, pasti itu bukan Kak Chiko, dia bukan Kak Chiko!"

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo