Mahasiswa di ujung harapan

Mahasiswa di ujung harapan

  • WpView
    Reads 191
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 14, 2022
WpInfo
Non-Fiction
"Cepet Pulang" teriak seorang wanita paruh baya dengan tangan menolak pinggang dan sebilah kayu yang diangkatnya seperti bung karno yang mengangkat tongkatnya saat orasi. Dari kejauhan nampak seorang anak kecil dengan nafas terengah-engah serta sendal yang dia kenakan di tangannya ( bagi seorang anak kecil itu layaknya dopping yang dapat menambah stamina saat perlombaan lari ), ia dating dengan wajah sumringah sabil berucap " iya bu, ini aku udahan mainnya". Selangkah menuju gerbang rumahnya ia disambut dengan sambutan, "Plak!Plak!Plak! sebilah kayu mendarat diatas paha kirnya. Seketika itu juga terdengar omelan " Udah mau maghrib masih main aja kamu !!!!", "Iya bu", anak kecil itu menjawab. Seterusnya..... Seterusnya......
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Our Path Diffrent
  • Lihat Apa Kamu?!
  • TAKDIR ALYA
  • Raina
  • Young Papa
  • Setangkai Aster untuk Esther
  • ArKa (End)
  • Waiting For You [TAMAT]
  • Serenada
  • Air Mata Cinta

PLAK! Suara Tamparan keras menggema sepanjang lorong sekolah. Kaay diam termangu dengan tatapan kosongnya, menyorot tidak percaya atas tamparan kuat yang baru saja Raina layangkan. Telinganya berdengung nyaring, "k-kak..." "Lo!" Tunjuk raina penuh kebencian, tepat di depan wajah kaay. "Manusia paling jahat! Yang pernah gue kenal." "Lo egois!" "Lo munafik!" "Lo nggak punya hati!" "Dan gue benci sama lo." Raina langsung pergi begitu saja sambil menuntun rayyan, meninggalkan kerumunan, dengan kaay yang masih diam ditempat, mengabaikan bisikan sumbang seluruh murid yang mengarah padanya. Kaay membalik badan, melewati mereka dengan ekspresi datarnya. Berjalan menjauh dengan langkah mantap tanpa menoleh, membuatnya menjadi buah bibir seantero murid. Mereka tidak tau, setiap langkah yang gadis itu hentakkan, maka saat itu juga buliran air terlepas dari bendungan kelopak mata yang sudah berusaha keras menahan serpihan rasa sakit dalam bentuk air mata. Secarik kisah romansa masa SMA yang menyeret dua saudara, dengan berbagai konflik yang tersedia. Persahabatan, perjuangan, dan pilihan, harus diambil untuk menentukan prinsip hidup kedepan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines