Logika Rasa

Logika Rasa

  • WpView
    Reads 138
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 10, 2023
Hai, ini aku. Panggil aku sesukamu karena aku tak suka memaksa apalagi dipaksa. Namun, jika aku meminta dipanggil tanpa rasa bukannya tak mengapa? Aku ada bermula dari luka. Luka yang mungkin tak seberapa. Namun, aku sadar bahwa asa dan bahagia masih ada. Masih bisa aku raba. Ya, aku sadar sepenuhnya sadar. Luka itu ada tidak tanpa alasan. Ketika logika sudah mencampuri urusan rasa maka di situlah permulaan luka. Tidak ada salahnya mengikutsertakan logika dalam rasa. Justru memang aku rasa seharusnya demikian. Atau bisa juga aku keliru? Tentu. Terlalu banyak perseteruan batin dan pikiran yang telah aku tamatkan. Mereguknya bagaikan mengunyah dan menelan silet dengan keinginan bukan paksaan. Sudah kubilang, kalau aku sama sekali tidak suka yang namanya pemaksaan itu, 'kan? Walau tetap ada pengecualian. Aku akan sangat merasa bersyukur jika dipaksa melakukan kebaikan.
All Rights Reserved
#302
senandika
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Admire Or Love
  • Saat Cinta Tak Terucap
  • I Love You
  •  DOUBLE R [COMPLETED]
  • With You 나는 행복하다
  • HER SHADOW
  • Air Mata Cinta
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]

Berpendidikan tinggi tak menjamin seseorang mengetahui segalanya. Pasti ada satu hal yang tidak di ketahui. Contohnya aku. Aku yang tak mengerti sama sekali tentang permasalahan hati. Katakan saja aku ini gadis bodoh. Memang aku ini bodoh. Bodoh dalam hal asmara. Bodoh dalam hal hati. Tak mengerti letak rasa kagum, suka, sayang dan cinta. Hanya karena tak mengenal arti ke-empat rasa itu, aku membuat hati sesorang patah. Memang tak parah. Tapi tetap saja aku sudah menggoreskan luka di hati seseorang. Kisahku bermula saat mengenal dua remaja laki-laki yang berbeda karakter. Aku dekat dengan keduanya, tapi rasa yang ku rasakan di setiap remaja laki-laki itu berbeda. Dan aku tak tahu apa maksud rasaku itu? Mau bertanya pada sahabatku atau orang yang telah berpengalaman? Jujur saja aku malu. Karena aku selalu masa bodo tentang laki-laki di depan mereka, padahal dalam hati kecilku, aku sangat antusias. Mau tak mau aku cari tahu sendiri, hingga aku sadar dimana rasaku berada? Hatiku ini memilih siapa? Dan saat aku sudah sadar, semuanya telah terlambat. Terlambat menyadari rasaku sendiri. Gimana pas baca deskripsinya? Ada rasa-rasa penasaran? Kalo ada jangan lupa tambahin cerita ini ke readinglist kalian ok;) Baca+vote+komennya di tunggulho❤️. Happy Reading🎉.

More details
WpActionLinkContent Guidelines