Sulit untuk mengartikan pandangan orang lain dengan yang kita alami.
Sosok remaja yang tumbuh di era maju,
Sunyi,gelap, sendiri dan putus asa akan mewakili kehidupannya yang berbeda dengan orang lain.
"Mama,apa yang harus saya lakukan?" Hiks, Isak tangisnya yang slalu menggema di penjuru malam
"Apa salah ku?"
"Seberapa menderitanya orang-orang dibumi ini" gumam nya pada diri sendiri
"Haruskah saya mengobati mereka? Tapi bagaimana?"
17 tahun dengan perasaan yang selalu dia pendam, serta pertanyaan-pertanyaan yang mustahil terjawab.
Akankah dia tenang dengan terus melihat itu?
Welcome to this story
Follow dan Vote untuk kelanjutan cerita:)
[Brothership/Sicklit/Slice of Life]
***
Nanda tak pernah menangis ketika teman-teman mengejeknya karena ia menduduki peringkat terakhir. Ia juga tak iri meskipun orang tuanya tak pernah datang mengambil rapor ataupun menghadiri perpisahan sekolahnya. Nanda pun tak pernah ambil pusing jika para tetangga mengatainya anak kurang didikan, bodoh, ataupun hal lain yang menyakiti hati.
Akan tetapi, jika dunia tak adil pada mamanya, Nanda akan sangat marah. Seperti permata berharga, Nanda amat menghargai dan mencintai mamanya. Sejak seorang pria menghancurkan hati mamanya, Nanda tak mempercayai pria manapun lagi. Baginya, ia saja cukup untuk membuat Mama bahagia.
Hingga suatu hari, seorang kakak kelas menawarkan padanya untuk menjodohkan Mama dengan seorang pria. Awalnya Nanda menolak dengan keras, tetapi hal besar datang dan menyadarkan Nanda bahwa; Mama harus tetap bahagia baik dengan maupun tanpa dirinya.