Fay
  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 16, 2025
Sulit untuk mengartikan pandangan orang lain dengan yang kita alami. Sosok remaja yang tumbuh di era maju, Sunyi,gelap, sendiri dan putus asa akan mewakili kehidupannya yang berbeda dengan orang lain. "Mama,apa yang harus saya lakukan?" Hiks, Isak tangisnya yang slalu menggema di penjuru malam "Apa salah ku?" "Seberapa menderitanya orang-orang dibumi ini" gumam nya pada diri sendiri "Haruskah saya mengobati mereka? Tapi bagaimana?" 17 tahun dengan perasaan yang selalu dia pendam, serta pertanyaan-pertanyaan yang mustahil terjawab. Akankah dia tenang dengan terus melihat itu? Welcome to this story Follow dan Vote untuk kelanjutan cerita:)
All Rights Reserved
#292
indigo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • New Possessive Family
  • Rainbow
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Mysterious Girl
  • Sehari Untuk Selamanya
  • Hi Crush! (udah selesai)
  • Ananda✔️
  • TRAUMATIZED🪽(END)
  • Lumen Spei. [Ongoing]

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines