Cerita Dalam Rumah

Cerita Dalam Rumah

  • WpView
    Membaca 3
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Jul 5, 2025
"Katanya ya, orang yang paling sakit itu orang yang selalu mendengar." ujarnya sembari menoleh padaku, tersenyum tipis. "Mendengar itu bukan perihal sakit, bisa jadi dia mendengar karna orang yang bercerita memang tidak pernah di dengar, dan dia sebagai orang yang paling senang dan selalu di dengar ingin tau bagaimana rasanya menjadi seorang pendengar yang baik, seperti semua orang yang mendengarkannya." Wajahnya berubah, kala jawaban yang aku berikan selesai. Matanya seakan menarik diri, enggan untuk percaya. Semilir angin datang, menerpa lembut menenangkan lewat sejuk.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#43
jauh
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • INTROVERT ITU PACARKU  [Seni Memahami Caka] || [TAMAT]
  • KELUARGA ATMODJO
  • Yang Mereka Panggil Si Cuek
  • Oneshot XingQiu/Qiu Harem
  • Boys In The Kost
  • Sweet Home -Tentang Kita yang Memilih Tinggal NOMIN FT JISUNG
  • CINTAKU NYANGKUT KE JURAGAN EMPANG (BXB)
  • TRANSMIGRASI SI PENIKMAT GOSIP (BL)

Masa kuliah Lima yang B aja berubah saat dia kena angin antah berantah hingga membuatnya merhatiin Caka terus-terusan. Cowok pendiam-teman sekelas yang selama ini bahkan nggak masuk daftar cameo dalam hidupnya. Nggak cukup disana. Semesta yang kadang kidding malah memperkenalkan mereka di ruang komputer gara-gara donat sialan yang bikin Lima kelabakan kayak ayam mau bertelur sembilan. Ganteng? Baik? Atau karena glowing paripurna sampai ada grup kampus buat penelitian kulit Caka? Enggak! Lima nggak mikirin semua itu waktu pertama kali berhadapan dengan Caka sedekat itu. Justru manik leher Caka yang membuatnya ternganga lupa kalau cowok itu bukan siapa-siapa. Anehnya, sejak kejadian ruang komputer itu, kebetulan-kebetulan lain muncul seperti semesta merestui interaksi kecil mereka. Sampai puncaknya, gara-gara mulut lemes Sora, lidah Lima malah kepleset ngajakin Caka pacaran. Nggak ada briefing. Nggak ada persiapan. Semuanya serba tiba-tiba kayak tahu bulat di goreng dadakan. Awalnya pesimis, cowok itu bakal nolak dia dilihat dari kepribadiannya dalam kelas. Tapi nyatanya Caka bilang 'Ya'. Dan dari satu kata 'ya' itu, hubungan seorang Lima yang cerewet, neting-an dan posesif dengan Caka yang kalem, lempeng, lurus-lurus aja, dimulai.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan