We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Refleksi
  • WpView
    Reads 272
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 28, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"Okay kalau mau begitu, terserah. Jujur aku males ngurusin ini terlalu jauh. Ga penting buat masa depan aku juga nantinya". "Harusnya kamu yang sadar diri, bukannya ngehindar kayak gini. Harusnya kamu juga ngertiin aku. Bukannya malah marah balik!" "Ngertiin kamu? hahaha pertanyaan yang udah klasik!" "Hati kamu tuh udah item. Hati kamu tuh batu. Untuk ngejelasin seberapa seringnya aku ngertiin kamu tuh nggak akan pernah mempan di kamu!" ... Seperti itu, tidak pernah berhenti. Perdebatan menyedihkan yang selalu berakhir 'hinaan' bagi diriku. Bukan ini yang aku mau. Bukan alur seperti ini yang kuinginkan. tapi dia seolah-olah tak mau kalah debat denganku. Aku tak tahu, aku marah, aku tertekan, aku merasa jatuh. Bahkan, aku merasa sepertinya aku dan dia gagal dalam hubungan ini. Emosi ku selalu memuncak dan aku merasa sakit hati setiap kali berdebat dengannya. Kadang aku berpikir, apakah aku salah waktu itu? ataukah sebenarnya dia yang egois?
All Rights Reserved
#923
teenlit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Alisa's Story
  • "FAKE LOVE" [[YOONMIN]]✔
  • Memories in Moon
  • Paradise
  • ALEAGAS [END]
  • After Met Him [END]
  • Imaginary Boyfriend
  • Andira [End]
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines