We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Refleksi
  • WpView
    Reads 272
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 28, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"Okay kalau mau begitu, terserah. Jujur aku males ngurusin ini terlalu jauh. Ga penting buat masa depan aku juga nantinya". "Harusnya kamu yang sadar diri, bukannya ngehindar kayak gini. Harusnya kamu juga ngertiin aku. Bukannya malah marah balik!" "Ngertiin kamu? hahaha pertanyaan yang udah klasik!" "Hati kamu tuh udah item. Hati kamu tuh batu. Untuk ngejelasin seberapa seringnya aku ngertiin kamu tuh nggak akan pernah mempan di kamu!" ... Seperti itu, tidak pernah berhenti. Perdebatan menyedihkan yang selalu berakhir 'hinaan' bagi diriku. Bukan ini yang aku mau. Bukan alur seperti ini yang kuinginkan. tapi dia seolah-olah tak mau kalah debat denganku. Aku tak tahu, aku marah, aku tertekan, aku merasa jatuh. Bahkan, aku merasa sepertinya aku dan dia gagal dalam hubungan ini. Emosi ku selalu memuncak dan aku merasa sakit hati setiap kali berdebat dengannya. Kadang aku berpikir, apakah aku salah waktu itu? ataukah sebenarnya dia yang egois?
All Rights Reserved
#923
teenlit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tokoh Utama
  • ALEAGAS [END]
  • No Longer Mate
  • Paradise
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • Alisa's Story
  • Imaginary Boyfriend

" Lo ngga lagi berubah ke alter ego Lo yang lain kan ?" Tanya Icha memastikan karena jawaban dari raksa tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Yang ditanya malah senyum senyum sendiri. "Kumat kan Lo malah kerasukan sekarang, senyum" ngga jelas lagi" "Takut ya lo kalo gue kerasukan bneran?" "Ish seriusan raksa gue nanya beneran" " Lo mau gue jawab seserius apa Cha karena itu emng jawaban gue" "Terus apa hubungannya posisi sama penyakit?" "Ada, klo gue ngasih tau ke bokap tentang penyakit gue ini sama aja kaya gue yang ngambil peran tokoh utama dari Abang gue sendiri" " Abang? Bang reja maksud lo?" "Apaan si sa jawaban Lo ambigu bgt bang reja ga mungkin kali sejahat itu sama Lo nganggep lo rebut kasih sayang bokap Lo" "Iya gue tau bang reja ngga cuman ngga sejahat itu tapi dia juga sayang bgt sama gue, kalo Lo jadi gue emng Lo tega biarin diri Lo sendiri rebut tokoh utama yang seharusnya bukan milik Lo?" " Tokoh utama apaan lagi si sa, kita ini di dunia nyata jadi ya tokoh utama nya ya cuman diri Lo sendiri, gue saranin mending Lo buruan bilang ke bokap Lo tentang penyakit lo itu" Raksa tertegun mendengar perkataan Icha itu " Lo malu yah punya calon pacar penyakitan mental kaya gue?" "Apaan si emng gue mau jadi pacar lo " Jawab Icha sepelan mungkin. " Kalo mungkin Lo nantinya jadi pacar gue sa, gue ga bakalan malu punya pacar seorang raksa yang menurut Lo, Lo adalah manusia penyakit mental karena itu ngga jadi masalah buat gue tapi masalahnya apa iya gue pantes, bersanding sama Lo yang terlalu sempurna buat gue, dan lagipula gue masih ada rasa buat Abang lo sa"batin Icha Tanpa mereka sadari setelah percakapan mereka berhenti disana mereka saling bergumam dalam hati, sambil menikmati sejuknya terpaan angin sore di tepi ladang sawah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines