Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.
Refleksi
  • WpView
    Reads 271
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 28, 2022
"Okay kalau mau begitu, terserah. Jujur aku males ngurusin ini terlalu jauh. Ga penting buat masa depan aku juga nantinya". "Harusnya kamu yang sadar diri, bukannya ngehindar kayak gini. Harusnya kamu juga ngertiin aku. Bukannya malah marah balik!" "Ngertiin kamu? hahaha pertanyaan yang udah klasik!" "Hati kamu tuh udah item. Hati kamu tuh batu. Untuk ngejelasin seberapa seringnya aku ngertiin kamu tuh nggak akan pernah mempan di kamu!" ... Seperti itu, tidak pernah berhenti. Perdebatan menyedihkan yang selalu berakhir 'hinaan' bagi diriku. Bukan ini yang aku mau. Bukan alur seperti ini yang kuinginkan. tapi dia seolah-olah tak mau kalah debat denganku. Aku tak tahu, aku marah, aku tertekan, aku merasa jatuh. Bahkan, aku merasa sepertinya aku dan dia gagal dalam hubungan ini. Emosi ku selalu memuncak dan aku merasa sakit hati setiap kali berdebat dengannya. Kadang aku berpikir, apakah aku salah waktu itu? ataukah sebenarnya dia yang egois?
All Rights Reserved
#13
hanhyojoo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Antara Pagar dan Perasaan
  • ALEAGAS [END]
  • Paradise
  • Andira [End]
  • We Are One
  • Tokoh Utama
  • We're destined to met, not to united.
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • Imaginary Boyfriend
  • Memories in Moon

Arvino Reyhan Dirgantara - atau Ehan, dikenal sebagai cowok kalem, sedikit dingin, dan susah ditebak. Sementara Azalea Vianita Anjani - atau Aza, cewek ceria tapi gengsian, selalu punya jawaban sarkas untuk semua hal yang berbau romantis. Mereka duduk di kelas yang sama. Satu sekolah. Satu lingkungan. Bahkan... satu gang rumah. Hubungan mereka? Jauh dari kata akrab. Saling lempar pandangan malas tiap papasan. Saling sindir kalau disuruh kerja kelompok bareng. Dan saling tutup telinga soal gosip yang nyebar soal "cocok-cocokan" dari teman sekelas. Tapi segalanya berubah saat hujan turun deras di suatu sore, dan satu payung mempertemukan mereka di bawah langit abu-abu. Sedikit demi sedikit, percakapan yang awalnya dingin mulai menghangat. Tatapan yang awalnya biasa, jadi terasa beda. Masalahnya? Mereka terlalu gengsi untuk jujur soal perasaan masing-masing. Di antara pagar rumah yang hanya dibatasi semak kecil, dua hati diam-diam tumbuh rasa - meski belum siap untuk mengakuinya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines