INFINITY

INFINITY

  • WpView
    Reads 138
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 12, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Althea melihat jam di tangannya berulang kali, sesekali memeriksa ruangan kerja suaminya dengan gusar. Disana, Sadam nampak tenang memeriksa laporan di-tab. Matanya seakan memindai, memilah bagian mana yang perlu diperbaiki. Meski begitu, Althea masih saja menunggu dengan sabar. Hingga dirasa dirinya bisa melihat langkah suaminya yang menjauh dari kursi kerjanya dengan tentengan 2 buku tebal ditangan kirinya, Althea melangkah cepat untuk menghentikan langkah pria itu. "Bisa dengarkan tawaranku dulu?" Sadam menghela nafasnya seakan sudah lelah dengan perkataannya wanitanya, "Aku tetap tidak setuju dengan perceraiannya." Dengan putus asa, Althea menggenggam tangan Sadam, "Baiklah, aku kalah dan menyerah. Itu kan yang ingin kau dengar? Sekarang berikan persetujuan tentang perceraiannya." "Bukan begitu, Althea. Bukan tentang yang kalah dan menang. Hubungan kita bukan kompetisi." Sedikit menekankan katanya, "Tapi kau satu-satunya orang yang membuat hubungan kita layak disebut sebagai suatu kompetisi." Semua berawal dari permainan gila yang membawa keduanya berada pada ikatan sakral bernama pernikahan. Althea sudah lelah dengan semuanya, terlebih dirinya tak mau jatuh lebih dalam akan pesona suaminya, Sadam Kalendra.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Brothers
  • Mahligai Cinta [END]✓
  • tentang sebuah rasa
  • VAREN: Imperfect Husband
  • Rumah Sepasang Luka ✓
  • Annalia (Tamat)
  • AKSARA
  • Play Date
Brothers

"Kay! Pikirin lagi deh ide gila lo ini! Masa gue sama Ray harus pake seragam begituan. Lo sih enak masih pakai seragam Ray. Gue dan Ray gimana?" Aku dan kedua saudara kembarku sedang berdiskusi di kamarku. Ini pernah dilakukan seminggu yang lalu saat Kay mengatakan ide gilanya kepadaku dan Ray. "Gak bisa Fay! Kan udah kesepakatan." Kay itu keras kepala. Mungkin karena merasa lahir lebih dulu, jadi dia selalu ingin menang sendiri. "Tapi kan lo bisa tukeran sama Ray tanpa harus melibatkan gue Kay!" aku protes sedangkan Ray diam saja. Dia benar-benar lamban. Sampai-sampai perempuan yang mendekatinya saja dia tidak menyadarinya. Itu karena kelambanan otak berpikirnya. "Gak bisa Fay sayoong! Ray itu gak bisa basket. Dia itu atlet renang. Jadi selama dia sekolah di tempat gue nanti, dia bakalan kalah terus kalau tanding sama yang lain. Bisa-bisa reputasi gue hancur gara-gara permainan basketnya yang parah." Aku tahu Ray memang tidak suka berlari, karena itu dia tidak suka bermain basket denganku dan Kay. Kalau kita bertiga sedang bermain bersama, Ray lebih memilih menonton aku dan Kay yang sibuk mencuri bola drible. "Lagipula kesepakatan terakhir itu mutlak setelah kita mengundinya. Jadi ini gak bisa diganggu gugat lagi. Besok kita mulai penyamaran. Gue jadi Ray, lo Fay jadi gue, dan Ray jadi lo Fay." Kay sudah memulai sikap otoriternya. Kalau sudah begini, aku dan Ray hanya bisa pasrah. Semoga Ayah dan Bunda tidak menyadarinya. Ayah mungkin tidak akan menyadarinya tapi Bunda sepertinya harus diwaspadai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines