Althea melihat jam di tangannya berulang kali, sesekali memeriksa ruangan kerja suaminya dengan gusar. Disana, Sadam nampak tenang memeriksa laporan di-tab. Matanya seakan memindai, memilah bagian mana yang perlu diperbaiki. Meski begitu, Althea masih saja menunggu dengan sabar.
Hingga dirasa dirinya bisa melihat langkah suaminya yang menjauh dari kursi kerjanya dengan tentengan 2 buku tebal ditangan kirinya, Althea melangkah cepat untuk menghentikan langkah pria itu.
"Bisa dengarkan tawaranku dulu?"
Sadam menghela nafasnya seakan sudah lelah dengan perkataannya wanitanya, "Aku tetap tidak setuju dengan perceraiannya."
Dengan putus asa, Althea menggenggam tangan Sadam, "Baiklah, aku kalah dan menyerah. Itu kan yang ingin kau dengar? Sekarang berikan persetujuan tentang perceraiannya."
"Bukan begitu, Althea. Bukan tentang yang kalah dan menang. Hubungan kita bukan kompetisi."
Sedikit menekankan katanya, "Tapi kau satu-satunya orang yang membuat hubungan kita layak disebut sebagai suatu kompetisi."
Semua berawal dari permainan gila yang membawa keduanya berada pada ikatan sakral bernama pernikahan. Althea sudah lelah dengan semuanya, terlebih dirinya tak mau jatuh lebih dalam akan pesona suaminya, Sadam Kalendra.
Rintik hujan membasahi tanah dengan irama
yang hampir menyentuh hati. Di dalam pelukan hujan,Nazeera merasakan kebingungan dan kegelisahan yang mengalir dalam alur air yang turun dari langit. Tetapi di tengah rintik hujan yang mengalir, ada keindahan tersirat dalam kesedihan yang dia rasakan. Kehangatan dari pelukan hujan tidak lagi memberinya ketenangan, melainkan menambah derasnya air mata yang mengalir di pipinya. Seperti hujan yang tak henti-hentinya mengguyur, Nazeera merasa dirinya semakin terpuruk dalam keputusasaan.
Dalam pelukan hujan, Nazeera merasa hancur dan terpisah dari kedamaian sementara yang biasanya
ditemukannya. Meskipun hatinya masih dilanda oleh
kebingungan, tetapi kali ini dengan keputusasaan yang mendalam. Dia tahu bahwa, seperti hujan yang tak kunjung berhenti, pergulatan batinnya pun tidak akan mereda dengan waktu. Dan pada saat yang pahit, kabar bahwa Darren akhirnya menikahi Cassandra membuatnya menangis hancur, menangis di bawah guyuran hujan yang semakin memperkuat kesedihannya.
"Terkadang, Perpisahan adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Semoga langkahmu selalu dipandu oleh cahaya keberanian dan kebijaksanaan. Sampai jumpa lagi, Darren" ucap Nazeera dengan tulus