Althea melihat jam di tangannya berulang kali, sesekali memeriksa ruangan kerja suaminya dengan gusar. Disana, Sadam nampak tenang memeriksa laporan di-tab. Matanya seakan memindai, memilah bagian mana yang perlu diperbaiki. Meski begitu, Althea masih saja menunggu dengan sabar.
Hingga dirasa dirinya bisa melihat langkah suaminya yang menjauh dari kursi kerjanya dengan tentengan 2 buku tebal ditangan kirinya, Althea melangkah cepat untuk menghentikan langkah pria itu.
"Bisa dengarkan tawaranku dulu?"
Sadam menghela nafasnya seakan sudah lelah dengan perkataannya wanitanya, "Aku tetap tidak setuju dengan perceraiannya."
Dengan putus asa, Althea menggenggam tangan Sadam, "Baiklah, aku kalah dan menyerah. Itu kan yang ingin kau dengar? Sekarang berikan persetujuan tentang perceraiannya."
"Bukan begitu, Althea. Bukan tentang yang kalah dan menang. Hubungan kita bukan kompetisi."
Sedikit menekankan katanya, "Tapi kau satu-satunya orang yang membuat hubungan kita layak disebut sebagai suatu kompetisi."
Semua berawal dari permainan gila yang membawa keduanya berada pada ikatan sakral bernama pernikahan. Althea sudah lelah dengan semuanya, terlebih dirinya tak mau jatuh lebih dalam akan pesona suaminya, Sadam Kalendra.
Elezza Elysia Atharrayan dan Aksara Naradhipta Atmaja adalah pasangan sempurna di mata orang orang, terikat dalam pernikahan yang lebih didasari oleh kesepakatan bisnis daripada cinta. Pernikahan mereka, yang telah berjalan lebih dari tiga tahun, merupakan hasil perjodohan antara dua keluarga kaya raya. Meski awalnya hubungan ini hanya sekadar formalitas, perlahan benih cinta mulai tumbuh di hati tapi sayangnya, perasaan itu hanya tumbuh sepihak.
Lezza terus berjuang untuk menjaga keutuhan rumah tangga mereka, berharap suatu hari Aksara akan menyadari dan membalas cintanya. Namun, harapannya kian redup saat Aksara mulai merajut kasih kembali bersama sang mantan kekasih, seolah tak peduli dengan semua pengorbanannya. Hingga akhirnya Lezza menyadari cinta yang tulus pun memiliki batas. Tidak ada yang mampu bertahan selamanya tanpa balasan.
Ketika Lezza memutuskan untuk menjauh dan menyerah, Aksara justru menariknya kembali seolah mengisyaratkanya untuk kembali