Nathan dan Vanila

Nathan dan Vanila

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 24, 2022
"Datang mu bagai helaian sakura yang lembut diterpa angin musim semi. Sinarmu bagai lazuardi yang bersinar dengan terang nya. Bilamana mau ulurkan tanganmu maka hilang sudah segala. Hatiku pun kau renggut dengan mudahnya. Jatuh dalam kegelapan. Dibawa pergi oleh aroma vanila manis diiringi lonceng pintu toko yang selalu ingin ku dengar." Namanya Nathan. Tidak pernah ia sebutkan nama selain itu. Rambutnya klimis memperlihatkan garis sisir yang ketara, bajunya rapih bahkan sampai lipatan tangan dan celananya, wajahnya jangan ditanya. Mungkin yang janggal hanyalah dasi bercorak polkadot berwarna kuning dan satu kotak alumunium yang selalu melekat padanya seperti jimat. Wajahnya yang nampak keras dan kaku hanya melembut seketika disebut nama vanila dan Namira. Hanya dua hal itu yang bisa membuat Nathan tersenyum seperti terkunci dalam nirwana. Ketika iblis didalam dirinya mulai iri pada kehadiran Namira ia berusaha menjauhkan diri. Mulai dari meninggalkan serbuk obat sampai menahan diri tidak memotong garis hidupnya sendiri semua dilakukannya. Demi Namira. Namun apabila sang iblis ternyata lebih kuat dari dugaan memang nya Nathan bisa apa? "Kalau seandainya saya terlahir lagi di dunia ini sebagai orang yang berbeda, apa kamu masih mau membuatkan saya roti vanila?"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CINTA ITU INDAH YA?
  • A Symphony of life
  • To the Happy Ending✓
  • Bahasa Isyarat Cinta
  • Karena Kamu Rumahnya
  • Antara Dendam dan Cinta
  • Mysterious Girl
  • Debts Of Obsession

"Eh Nad," Ziro memanggilnya, suara cerianya penuh semangat. "Lo mau tau nggak persamaan lo sama bokap gue?" Nadira yang sedang sibuk mencatat hanya mengerutkan kening, sedikit terganggu. "Gak tahu, dan gak mau tahu," jawabnya cepat tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. "Naad!" Ziro merengek, mencoba menarik perhatian Nadira. "Iya, iya, gak tahu tuh, apaan tuh persamaannya?" Nadira mengerutkan dahi, tidak sabar dengan pertanyaan Ziro. "Gaada habisnya," jawab Ziro sambil tertawa, dan Nadira hanya bisa mendengus kesal. "Hahaha, bisa aja lo," Nadira tertawa sedikit, meski suaranya terdengar sedikit dipaksakan. Sejak kedatangan Ziro, cowok baru di sekolah, Nadira merasa hidupnya semakin kacau. Mereka berdua memiliki persamaan yang tidak pernah terduga. Mulai dari perseteruan kecil yang penuh ejekan hingga perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka. Akankah mereka berakhir seperti yang Nadira harapkan, atau ada sesuatu yang lebih besar yang menanti?

More details
WpActionLinkContent Guidelines