We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
His Eye's

His Eye's

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, May 29, 2022
WpInfo
Non-Fiction
Di sebuah perpustakaan tua, terlihat seorang siswa dengan sebilah pisau di tangannya dan seorang guru cantik yang tak berdaya Rega yang saat itu baru masuk ke Geranda HS, tengah mengumpulkan tugas nya dan beberapa temannya ke meja seorang guru penjaga di perpustakaan tua itu, namun saat ini guru itu tidak berada di sana Saat ingin kembali ke kelas, Rega tanpa sengaja mendengar beberapa kata percakapan antara guru dan siswa itu "Kau harus tanggung jawab! Dasar bren*sek! Ini anak mu, darah daging mu!" Ucap guru itu sambil memeluk perutnya yang masih rata "Tidak! Aku tak pernah menghamili mu. Dasar jal*ng!" Ucap siswa tadi dengan tatapan datar nan menusuk pada guru itu "Ini anak mu, Nanda! Kau yang menghamili ku! Tak ada pria lain yang berani menyentuh ku selain kau!" "Baiklah, kalau itu memang anak ku, maka ia harus MATI!!" Ucap akhir siswa itu dengan penekanan pada akhir katanya lalu menancapkan pisau nya tepat ke arah perut guru itu Guru itu terlihat begitu panik dan kesakitan, perlahan guru itu mencabut pisau itu dari perutnya, bau amis darah mulai tercium "ka-u! Kau berniat membunuhku dan calon anak mu!" Ucap guru itu dengan sekuat tenaga nya "Aku tak pernah menghamili mu, Garin. ingat itu dalam kubur mu!" "Kau akan menyesal! Ku kutuk kau! Mulai saat ini, siapapun yang menatap mata mu akan mengalami kematian yang menyiksa nya sebelum ia benar-benar mati. Begitu pula dengan mu, saat kau melihat mereka tersiksa, kau juga akan merasakannya! Dan genap pada orang ke 1000 yang mati karena tatapan mu, KAU AKAN MATI!" ucap akhir guru itu sebelum akhirnya benar-benar tewas karena kehabisan darah "Reil? Kau sudah tau kan? Sekarang, BANTU AKU!"
All Rights Reserved
#312
curse
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Forever Friends ( End )
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Love Is Hindered By Time
  • Where am I?
  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • ALBARES MADAGASKAR (END)
  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • Argithan √
  • I Can See You

Clara minum teh manis hangat yang tadi pagi dia siapkan dalam termos kecil kesayangannya. Menghirupnya secara perlahan untuk merasakan aroma teh melati yang harum berbalur sedikit rasa manis. Karena Clara tidak terlalu suka rasa teh yang terlalu manis. Cukup senyum manisnya Gibran cowok tercintanya saja yang Clara sukai. Pagi ini Gibran belum memberinya kabar , terakhir sore kemarin Gibran mengirim pesan kepada Clara di obrolan pribadi hanya menanyakan Clara ada dimana , apakah sudah sampai dirumah dan sudah makan siang. ----- Clara langsung bangkit dan menempatkan termosnya diatas meja lalu keluar kelas untuk mulai menyambut kedatangan teman-teman kecilnya didepan pintu kelas. "Ibu guru ... aku udah berani sendiri dong." " Liat deh , mamaku anterin aku sampai pintu pagar aja ." kata Sena dengan bangganya. "Oiya ya ... mama Sena cuma anterin sampai pintu pagar." "Alhamdulillah ya Sena berhasil pagi ini." lanjut Clara sambil melangkah maju menyambut Sena dan berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan tinggi badan Sena. ----- "Ibu guruuuu.... ada ular !" teriak Sena "Ada ular ... Awas teman-teman hati-hati , kita lapor polisi bu guru ." ucap Raya dengan suara cemprengnya sibuk berteriak-teriak sehingga memancing teman-temannya yang perempuan untuk ikut berteriak-teriak heboh. "Bu guru ... kenapa cacingnya gak dibunuh aja bu." "Kan cacingnya udah gangguin kita tadi." "Iya bu guru ... cacingnya pasti gak mandi sama sikat gigi deh." tambah Hanin dengan suara cemprengnya menimpali ucapan Nilam ----- #Proses revisi per Bab# #Mohon maaf bila tidak nyaman#

More details
WpActionLinkContent Guidelines