stupid girl

stupid girl

  • WpView
    Reads 146
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 22, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
POV AUTHOR "Berapa lama lagi aku bisa menunggu mu?" *** Seorang perempuan berlari kecil menghindari serangan tetesan air dari langit yang mengucur deras, ia berusaha berlari ke depan toko yang sudah tutup dan mengencangkan jaketnya. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, ia yang tadinya berada didepan toko mencoba menghindari hujan tiba tiba berjalan perlahan menuju tetesan itu dan memejamkan mata merasakannya. "Kebebasan.."perempuan itu merasa begitu bahagia, ia merasakan kebebasan sesungguhnya. "Hei..Ayo sini"tiba tiba seorang lelaki menarik nya kebawah naungan payung menuju kembali kedepan toko barusan. "Hei!" "Apa?" "Kamu siapa ? ngapain narik narik aku kesini ?" "Kenalin levin prasetya,kamu?"tiba tiba lelaki itu menjabat tangannya,yang langsung ia tepis "Kamu belum jawab pertanyaan aku siapa kamu?ngapain narik  narik aku kesini" "Kan udah aku kenalin diri, aku LEVIN"lelaki itu mengeja nama nya "Ih maksud nya.."belum sempat menyelesaikan nya levin langsung memotong "aku
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • Mine! Remember It!
  • I'm Gone Or You? {END}✔
  • Where am I?
  • ALEYA~~
  • HAPPINESS • DewTee (PROSES REVISI)
  • Complete (END)
  • My Crazy Neighbor (Completed)
  • Arkan&kiara

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines