KANDANG ALAS

KANDANG ALAS

  • WpView
    Reads 3,492
  • WpVote
    Votes 116
  • WpPart
    Parts 46
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Jul 24, 2022
Bunyi botol yang tergantung dihembus angin membentur sebuah paku yang juga digantung dalam satu tali. Suasana semakin mencekam dibawah langit yang tak lagi menyisakan warna jingga. Pertigaan jalan yang terlihat banyak ditumbuhi rumput-rumput menjalar, menambah suasana semakin menakutkan baginya. Buah apel yang dia beli tadi masih tergeletak di kursi depan mobil sementara di sebelahnya ada sebuah boneka beruang berwarna putih. "Siapa itu!" perempuan itu mengernyitkan dahinya, mencoba menangkap sosok dalam penglihatan yang mulai samar oleh suasana malam. Cahaya sinar dari sumbu minyak itu berpendar menerangi bagian perut sosok itu, tampak baju lurik bergaris ke abu-abuan yang terlihat kumal, membalut tubuh yang terlihat tegap. Lampu Ting itu perlahan diangkatnya, terlihat jelas wajah lelaki itu, paruh baya yang memiliki tatapan tajam itu sempat membuat sang perempuan undur beberapa langkah ke belakang. "Apa yang kamu lakukan di sini hah!" tambahnya. Mata tajam itu seakan-akan menggambarkan kebengisan, yang semakin membuat perempuan itu ingin segera lari masuk ke dalam mobil. Belum juga niatnya terlaksana, tangan lelaki yang masih memegangi lampu itu melambai ke arahnya. Perempuan itu hanya mengikuti langkah-langkah lelaki yang baru di jumpai ini. Tampak di depan sebuah rumah kecil yang terang dengan memperlihatkan beberapa perkakas bengkel. "Masuklah, aku akan segera membawa peralatan untuk mengganti ban mobilmu." Lelaki itu meletakan lampu Ting, memutar piringan kecil yang menarik sumbu semakin tenggelam hingga api padam. Lalu dia masuk ke sebuah ruangan melalui pintu kecil yang tak jauh dari tempat sang perempuan itu duduk. "Kamu pasti haus, ini, minumlah." Disodorkan gelas beling itu kepada sang perempuan. "Terima kasih, saya harus memanggil apa." Di teguknya air di gelas tersebut. Pertanyaan itu tak dijawab. Tak lama lalu terdengar tubuh perempuan itu terjatuh dari bangku kayu yang didudukinya. Lelaki itu tersenyum...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Titik Nol Paling Sunyi
  • ELVARETTA 1993
  • Occulta Lux
  • Liberosis
  • The Syndrome: Melarikan Diri dari Hutan Kegelapan
  • DESTINY (TAMAT)
  • Aladin [SELESAI]
  • BUCIN MAS ARSITEK [ SUDAH TERBIT ]

Zeya bukan perempuan yang mudah mengeluh. Tapi hidup, pada satu masa, tak memberinya pilihan selain diam-dan terluka dalam sunyi yang panjang. Sebagai bendahara dalam organisasi pecinta alam di kampusnya, Zeya dikenal cekatan dan tulus. Ia tak pernah membayangkan bahwa sebuah kehilangan kecil bisa meruntuhkan dunia yang ia bangun sendiri-kepercayaan. Fitnah datang dari tempat paling tak disangka: sahabatnya sendiri, Silvi. Orang yang ia bantu bertahan hidup, yang ia beri tumpangan, bahkan ia bela melebihi dirinya. Ketika uang kas organisasi hilang secara misterius, semua mata tertuju padanya. Silvi diam, lalu mengutuk. Dan semua orang percaya. Dunia menjauh. Kata-kata menjadi tajam. Zeya mengganti uang itu diam-diam, tapi luka sudah tertanam. Hanya satu dua yang tak ikut menghujat. Salah satunya: Beril, pria slengekan dari tim basket kampus. Masa lalu Beril juga dipenuhi tuduhan. Tapi entah mengapa, ia melihat Zeya tak sebagai pelaku, melainkan sesama korban. Ada pula Awan, junior yang ceria, jujur, tapi menyimpan luka dalam dari keluarga yang tak pernah utuh. Ia mengagumi Zeya dalam diam, menjadikannya tempat berteduh saat badai rumah makin kencang. Gunung menjadi tempat yang menyembuhkan. Tapi bahkan puncak pun tak bisa memulihkan luka jika hati tak tahu caranya memaafkan. Ini adalah kisah tentang kehilangan, tentang sunyi, tentang bagaimana fitnah bisa membunuh yang tak bersalah, dan tentang satu perempuan yang menemukan kembali kekuatannya-pelan-pelan, dari titik nol yang paling sunyi. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines