Neverending Journey

Neverending Journey

  • WpView
    Reads 1,219
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 39
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 20, 2024
WpInfo
Poetry
Melalui apa yang akan kusampaikan nanti, aku hanya ingin memelukmu, berbisik sangat pelan dan memberi tahumu bahwa langkahmu sudah jauh. Bahwa di setiap jalan yang sebelumnya dilewati, ada banyak batu yang menjadi saksi kuatmu, masih ada aku... walau mungkin kita tak pernah bertemu. Naskah ini aku tulis ditengah pelarian. Kadang pada tengah hari saat matahari sedang panas-panasnya, kadang ketika langit sudah sekelam bubuk sekam. Mungkin nanti, kalian menemukan cermin ditengah tulisan ini. Kalian akan menemukan refleksi diri kalian yang sedang sendirian, yang hancur, yang kesepian, tapi masih bertahan hingga sekarang. Dan dari naskah ini, aku ingin kalian tahu bahwa tidak masalah untuk menjadi tidak baik-baik saja. Tidak ada yang salah dalam diri kalian. Tidak apa-apa... kalian tidak sendirian. Tertanda, aku. Pssttt... If I told you this was a true story, would you believe it?
All Rights Reserved
#359
truestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu | ✔
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • Rembulan Yang Sirna
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • poem
  • My Wish
  • Semua Memukul (✅)
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines