ABSURD
  • WpView
    Reads 1,049
  • WpVote
    Votes 111
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 2, 2022
"Ar, g-gue hamil," ucap seorang gadis dengan suara terdengar lirih. Gadis itu pun berbicara dengan menundukan kepala. Pria yang dipanggil Ar berdiri dengan posisi membelakanginya ... otomatis mendengar itu ia tampak membalikan badan. Raut wajahnya mengeras, menandakan ia tidak suka mendengar berita itu. Perlahan pria itu mendekati gadis dihadapanya, yang masih setia dengan posisi menundukan kepala. Tatapan tajam pun ia berikan pada gadis itu. Dengan sekali hentakan tangannya menarik sekaligus mencengkram dagu gadis itu. Mengakibatkan wajah yang sedari tadi tertunduk seketika mendongak. "Gugurin kandungan itu!" perintahnya dengan nada menyentak. Minik wajahnya pun semakin menunjukkan akan kemarahan. Rahang mengeras, matanya memancarkan kilat kebencian. Gadis itu meringis kesakitan, pasalnya cengkraman pada dagunya semakin kuat. Ditambah rasa sesak di dadanya mendengar pria itu dengan entengnya menyuruh bahwa ia harus mengugurkan kandungannya. Kejam. Terpancar kekecewaan yang mendalam di matanya. Kini ia sudah tak mampu menahan sesak di dadanya. Seraya memejamkan mata, ia hanya bisa menangisi kenyataan bahwa pria dihadapannya itu ternyata begitu brengsek. "Asal lo tahu, gue gak sudi punya anak dari rahim lo!" Gadis itu tersenyum getir. Di sela-sela cengkraman pada dagunya semakin kuat, ia berusaha membuka suaranya. "B-brengsek!" Dadanya bergemuruh hebat. Napasnya memburu. Pria itu tersenyum sinis. "Lo pikir gue nyentuh lo karena gue cinta sama lo?" tanyanya. Gelengan samar ia lakukan. "Malam itu gue lagi frustasi, gue capek, pikir gue lagi kacau. Dan gue butuh seseorang agar hasrat sesaat gue terlampiaskan," lanjutnya diiringi cengkraman yang ia lakukan semakin kuat. Hanya terisak yang dapat gadis itu lakukan. "Jadi, gugurin kandungan itu secepatnya!" geramnya dengan menghempas kuat cengkraman itu sampai tubuh sang gadis ikut terhembas ke lantai sana. Brug!
All Rights Reserved
#419
lawak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Amor Eterno
  • GHAVARI
  • Stay (Away)
  • Alinka's Story! [Completo]
  • ARKAN |END| Belum Revisi
  • (LENGKAP | SELESAI REVISI) Hello... Dudaku... (Sequel Off M.Gant)
  • Whispers in the Blood
  • Make a Story With You
  • Zenna Story

"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?" Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan. "Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon. "Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?" Harlen terdiam, tak sanggup membalas. "Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya. "Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis. "Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat." "Qila, tolong dengerin dulu..." "Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo." Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah. "Qila! Tunggu, dengerin dulu!" Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. "Jalan, Pak," ucapnya pada sopir. Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya. "QILAAAA!" Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali. Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines