Yudhatama

Yudhatama

  • WpView
    Reads 517
  • WpVote
    Votes 46
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 19, 2024
WpInfo
Fanfic
Enhypen
Bagi beberapa orang keluarga adalah tempat untuk berbagi keluh kesah, tempat yang nyaman untuk bercerita, dan tempat untuk berpulang. Nyatanya, itu tidak di rasakan oleh seorang remaja yang memiliki masalah di keluarganya. Angin berhembus kencang, hawa dingin menusuk kulit tak mengusik seorang remaja dengan balutan baju hitam dan outer hitam itu yang sedang berjalan menyusuri taman kota. Sinar rembulan terang, bintang bertaburan diatas langit dan malam semakin larut tak membuat remaja itu enggan meninggalkan taman kota. Rasa trauma, kewaspadaan tinggi, dan aura intimidasi di miliki seorang remaja yang berparas tampan dengan mata yang menatap tajam, membuat orang yang menatap dirinya takut. Akankah berbagai permasalahan bisa menyebabkan berubahnya sifat seseorang? Ingin tahu kelanjutannya cuss langsung baca! NB:KARANGAN CERITA INI ASLI DARI IDE SENDIRI TIDAK PLAGIAT ATAU MENIRU KARYA LAIN [JIKA ADA KESALAHAN NAMA ATAU KALIMAT MOHON MAAF TIDAK ADA UNSUR PENJIPLAKAN] DILARANG PLAGIAT!
All Rights Reserved
#26
prim
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • acalapati
  • DOPAMINE [HIATUS]
  • Sea For Blue Whales [TERBIT]
  • About Naskala [on going]
  • Jeandra dan Waktunya
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Saat Semua Orang Berpaling
  • Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END)
  • Different [END]
  • REGATHAN [END]

"Ran, pulang, bapak udah sayang sama kamu." °°° Kegagalan seolah telah menjadi sahabat karib bagi Hiran-anak ketiga dari empat bersaudara yang lahir tepat di ambang keruntuhan keluarganya. Ketika kemewahan menjelma jadi kenangan dan tawa berubah menjadi diam panjang, Hiran hadir ke dunia. Bagi sebagian orang, ia adalah pertanda malapetaka. Pembawa sial, begitu mereka menyebutnya. Hiran tumbuh dalam keheningan yang tak pernah benar-benar ia mengerti, tapi selalu ia terima. Ia belajar membaca raut kecewa, menghafal letak luka yang tak terucap, dan memupuk kesadaran bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Pada usia delapan belas, cinta adalah kemewahan yang tak pernah ia harapkan datang. Ia tahu diri-ia tahu batasnya. Namun, semua keyakinannya mulai runtuh ketika Arabella hadir-gadis dari dunia yang tak pernah Hiran pijak. Anak konglomerat dengan senyum yang mampu menembus dinding-dinding luka. Sekali tatap, cukup untuk mengguncang hati yang selama ini ia jaga mati-matian. Dan meski perasaannya tumbuh tanpa diundang, Hiran tahu satu hal pasti: cinta ini tak boleh hidup. Ia akan menguburnya, sebelum harap kembali menyakitinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines