Playing with My Professor

Playing with My Professor

  • WpView
    Reads 101,458
  • WpVote
    Votes 2,491
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 3, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Billionaires and CEOs
Dark Romance
Happy Ending
Semuanya berawal dari Selena yang terus membuat kesalahan demi kesalahan dan semuanya tertangkap basah oleh Edgar. Selena yang pada dasarnya tidak berhubungan terlalu baik dengan Edgar yang tak lain adalah profesor muda di kampusnya tersebut, tentu saja mencoba untuk terus menghindari Edgar. Namun, takdir tampaknya enggan memisahkan keduanya. Hingga pada akhirnya, Edgar pun memilih untuk melewati batas dan menawarkan sebuah permainan penuh gairah yang menarik bagi Selena. Dengan darah muda yang mengalir panas pada nadinya, Selena sendiri tidak bisa menolak tawaran tersebut. Hingga keduanya terlibat dalam permainan yang panas dan berbahaya. "A, Apa ini?! Apa yang akan kau lakukan!"-Selena Cornell "Apa lagi? Tentu saja kita akan bercinta agar membuatmu sadar, bahwa hanya aku yang bisa membuatmu puas, dan kita memang saling membutuhkan serta sangat cocok untuk menjadi sepasang kekasih."-Edgardo Fritz Barton
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • FANÀTICO | MANURIOS (RE-PUBLISH)
  • GODAAN NAFSU SANG IPAR
  • Bad Revenge || I'm Sorry
  • THREAD OF DESTINY
  • Naughty Baby on My Bed
  • POSSESSIVE
  • Love Bombing
  • Little Lady [END]
  • The Last Goodbye

[RE-PUBLISH] Axel dan Vanilla adalah dua jiwa yang terjebak dalam dinamika cinta yang rumit. Hubungan mereka lahir di tengah ketidakpastian, terus-menerus diuji oleh penghakiman orang lain dan rasa bersalah yang mengintai di setiap sudut. Ini adalah kisah tentang memilih: mengikuti insting hati atau bertahan demi sebuah reputasi. Axel, dengan pesonanya yang tak terbantahkan, selalu memiliki cara untuk menarik Vanilla mendekat-menawarkan janji akan kesenangan dan kebahagiaan yang bisa mereka rengkuh bersama. Di sisi lain, Vanilla berdiri di atas prinsipnya. Ia berusaha mati-matian mempertahankan martabatnya, meski jauh di lubuk hati, pertahanannya perlahan runtuh oleh setiap perhatian kecil yang Axel berikan. Setiap pertemuan adalah tarik-menarik yang berbahaya. Setiap percakapan adalah dilema. "Kita punya kesempatan," kata Axel sambil menekan tubuhnya lebih dekat, membuat jantung Vanilla berdebar semakin tak terkendali. "Kesempatan apa yang Kak Axel maksud?" tanyanya kebingungan, dengan nada yang sedikit bergetar. Axel semakin menunduk. Tangannya bergerak menyelipkan helai rambut Vanilla ke belakang telinga. "A chance to start a relationship," jawabnya dengan suara rendah, menahan tangan Vanilla yang berusaha menyingkir dari sentuhannya. "I know you feel the same way, Vanilla." Vanilla terpaku, tubuhnya mendingin sekaligus memanas. Ia sadar, begitu ia mengiyakan, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines