Story cover for DEJAVU by NaylaFitriani841
DEJAVU
  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Jun 03, 2022
tentang seseorang yang berusaha mati-matian melupakan kenangan yang manis, dan berusaha juga membiasakan segala hal yang berhubungan tanpa dia.

Halo Guys! Selamat membaca! ^^
All Rights Reserved
Sign up to add DEJAVU to your library and receive updates
or
#738lovetriangle
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Hujan dan Sebuket Dandelion cover
Rainy Day (complete) cover
Ada cinta dibalik hujan turun cover
Hearthless. cover
Not As Sweet As Sugar cover
Bukan Salahnya Hujan (Completed) cover
The Last Birthday With You  cover
RAIN cover
Untuk Dimas (End) REVISI cover
HUJAN TERAKHIR YANG MEMBAWAMU PERGI cover

Hujan dan Sebuket Dandelion

6 parts Ongoing

Ini tentang keluarga. Juga tentang hujan yang indah. Seperti halnya Naradra Carolina Abastra. Penyuka kaos oversize juga celana training yang sedikit kepanjangan. Gadis biasa-biasa saja dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Ketika rintik-rintik hujan saling berjatuhan hingga berubah deras. Dia selalu ada untuk melihatnya menyambut bumi. Menciptakan suara melodi yang indah, dibalik awan gelap. Begitu juga dengan bunga dandelion, indah dengan caranya sendiri. Terbang bebas tanpa takut terlihat berbeda. Karena itu Nara suka dengan keduanya. Namun kekakuannya hanya satu, yakni seorang Damantara Gusti Pangestu. Lelaki dengan rambut kecoklatan dan kacamata bulat yang bertengger sempurna menghiasi wajahnya. Bukan laki-laki culun juga berandal. Gusti selalu berhasil menjungkir balikkan hatinya. Dengan mata hitamnya yang memikat. Sayangnya, dia bergerak untuk sebuah rahasia kelam. Namun, jika waktu terus mengikis rahasia yang selama ini mereka tutup. Apakah Tuhan masih memberi kesempatan untuk bersama? Atau justru mereka sendiri yang akan pergi, meninggalkan jejak yang kian dalam? __________________________________________________ Gusti menghela napas. "Mau tau sesuatu?" matanya menatapku begitu serius. "Sesuatu?" Laki-laki itu mengangguk. "Tentang semua ini, yang mungkin buat lo risi?"