Her Past
  • WpView
    GELESEN 285
  • WpVote
    Stimmen 25
  • WpPart
    Teile 1
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Juni 8, 2022
Nada memang mencintai Sean. SANGAT! Tapi satu hal yang masih menjadi dilema dan rasa bersalah Nada kepada Sean. Bahwa Nada masih mencintai masa lalunya. Gadis itu tau, bahwa ia tidak akan bisa bertahan dengan Sean jika hatinya masih saja terbagi. Bertahun - tahun ia mencoba untuk melupakan masa lalunya, tetapi bayang - bayang masa lalu itu selalu hadir bahkan dalam mimpinya. Setiap hari ada saja yang menjadi pemicu permasalahan dalam hubungan mereka. Nada pikir ini semua karena sifat ia dan Sean yang menurutnya terlalu berbeda. Nada selalu meyakini dirinya bahwa ia telah sepenuhnya move on dari masa lalunya. Sampai saat dimana ia menyadari bahwa hatinya tak hanya dipenuhi oleh Sean, tapi juga masa lalunya. Akankah akhirnya Nada bisa mencintai Sean sepenuhnya?
Alle Rechte vorbehalten
#283
ningning
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Sebuah Antara ✔
  • KEPERGIAN SENJA
  • New Universe : Transmigration
  • It's Always Been You✔️
  • Biantara | Lee Jeno
  • Untold Lies [Completed]
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)
  • Walk You Home 🌿 [END]
  • nothing // o.s.h

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien