We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Don't Leave Me

Don't Leave Me

  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 9, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Nasha selalu merasa yakin bahwa keberuntungan itu ada. Sebelum badai besar menghantam keras dan merenggut bagian terpenting dari sisa kehidupan yang dia punya. Di usinya yang baru menginjak angka delapan belas, dia memutuskan bahwa mati lebih baik daripada melanjutkan kehidupan. Ajaibnya, tiba-tiba sebuah keberuntungan datang. Jawaban dari doa yang diam-diam selalu dia panjatkan. Tapi apakah keberuntungan itu masih layak disebut sebagai keberuntungan ketika yang menyambutnya adalah tangisan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dear of Natasya
  • Green Jewel [Selesai]
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • Jodoh Pilihanmu, "Dia Yang Terbaik" (TAMAT)
  • SALARYN KINGDOM : Bridge Of Destiny [END]
  • BILA: Love Consumes You
  • Lumen Spei. [Ongoing]
  • Back To Change i'm aletha now ! #wattys2018
  • WISHES.

"Aku tersenyum bukan karena bahagia, tapi karena aku tak ingin kalian melihat aku runtuh." - Natasya Kirana Maharani Natasya Kirana Maharani, seorang gadis 14 tahun yang tampak ceria di luar, menyimpan lautan luka di dalam dirinya. Ia hidup di antara ketiadaan kasih sayang keluarga, dikhianati oleh satu-satunya cinta yang ia percayai, dan terjebak dalam gelapnya lorong kesehatan mental yang terus menghantuinya. Meski dunia seperti runtuh, Natasya masih bisa tersenyum. Ia mendirikan komunitas kecil di sekolah bernama Langit yang Menangis Diam-Diam, tempat di mana anak-anak lain yang juga terluka bisa menuliskan isi hati mereka tanpa takut dihakimi. Komunitas itu menjadi suara bagi mereka yang sunyi, menjadi bahu bagi mereka yang diam-diam ingin menyerah. Namun, tidak semua orang menyukai kejujuran. Komunitas itu mendapat serangan, hujatan, bahkan dihancurkan. Sahabat menjauh, pacar memilih diam, dan luka-luka lama kembali terbuka. Natasya terus bertahan. Ia terus menulis. Terus meyakinkan orang lain bahwa mereka layak hidup, meski hatinya sendiri sudah lama remuk. Hingga pada suatu malam, ketika tak ada lagi pelukan yang cukup hangat, ketika suara-suara di kepalanya terlalu bising, dan ketika senyumnya tak lagi mampu menahan air mata... Natasya memutuskan untuk meninggalkan dunia yang tak pernah benar-benar menerima keberadaannya. Ia meninggalkan surat terakhir di ruang komunitas yang dulu ia bangun: "Aku lelah menjadi kuat. Tapi aku ingin kalian tahu: kalian layak hidup, bahkan saat aku memilih berhenti." ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines