I HAVE BIPOLAR

I HAVE BIPOLAR

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 9, 2022
Bantal yang selalu menjadi dekapan untuk menahan rintihan, selimut selalu mengusap titik demi titik yang lolos dari mataku, kasur yang menjadi tempat pelampiasan amarah bahkan diriku sendiri yang terkadang menjadi luapan tersebut. Kini sosok tersebut penuh dengan luka, lebam bahkan bengkak. Bahkan tanganya menjadi kanvas untuk menciptakan karya yang hanya penuh warna merah. Pipi yang seharusnya diusap lembut namun menjadi tempat tamparan dirinya sendiri dan rambut yang dulunya ia belai kini sekali tarik puluhan rambut tersebut jatuh ke lantai yang dimana penuh tetesan darah segar. Tubuhnya kini tak sehat seperti dulu dan senyuman yang selalu ia perlihatkan tak seindah dulu. Akankah sosok tersebut akan kembali seperti dulu?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Puing luka
  • Backstreet
  • AKU ADALAH AKU: Bukan Dia Seperti Yang Kau Puja (END)
  • SECOND LEAD
  • CARAKU MENINGGALKANMU
  • When Love is Breaking
  • alxendric and his wounds
  • Unfinished Goodbye

"Malam itu menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan." Aluna kehilangan segalanya dalam satu malam-rasa aman, harga diri, dan harapan. Ia hancur oleh luka yang tak terlihat mata, tapi mengoyak jiwanya habis-habisan. Kehamilan yang datang dari pemerkosaan membuatnya ingin menyerah. Namun dalam reruntuhan hidupnya, ada dua hal yang terus menahannya agar tetap berdiri: keluarga yang tak pernah berhenti mencintai, dan janin kecil dalam rahimnya yang menjadi alasan untuk bertahan. Sejak itu, Aluna membenci laki-laki. Ketakutannya begitu dalam, hingga setiap tatapan dan suara laki-laki bisa membuat tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak bisa menolak kehadiran laki-laki itu-sosok yang bertanggung jawab, yang tak pernah pergi, yang terus mengirim bunga, hadiah, dan surat-surat haru berisi penyesalan serta doa. "Aku tahu aku tak bisa menghapus malam itu. Tapi setiap langkah yang kamu ambil hari ini, adalah langkah keberanian luar biasa. Kamu tidak sendirian." - A. Hari demi hari, tembok kebekuan di hati Aluna mulai retak. Bukan karena dia lupa, bukan karena dia memaafkan dengan mudah, tapi karena perlahan, ia mulai membuka diri terhadap kemungkinan: bahwa tidak semua luka harus berdarah selamanya. Akankah Aluna mampu menghadapi masa lalunya? Mampukah ia membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya lagi-meski dari kejauhan? Sebuah kisah tentang luka, keberanian, dan cinta yang lahir dari kehancuran. Untukmu yang sedang berjuang: kamu tidak sendirian.

More details
WpActionLinkContent Guidelines