IBU
  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Thu, Jun 9, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Kasih ibu sepanjang masa. Ibu. Sosok malaikat tak sayap yang rela mengorbankan dirinya untuk kita lahir di dunia. Sama halnya dengan sosok wanita paruh baya yang harus hidup berduaan dengan anak semata wayangnya, Nilam. Setelah kepergian suaminya. Ibu satu anak itu harus kerja banting tulang mulai dari berjualan kue hingga pemulung sekalipun. Hanya untuk memberi makan anaknya yang ia rawat. Namun, nyatanya sifat dan perilaku Nilam tidak sama dengan orang lain. Durhaka. Selalu bersabar menghadapi sikap dan sifat Nilam yang keras kepala dan suka pembangkangan. Apapun yang Nilam inginkan harus segera dituruti detik itu juga. Bentakan, cacian, bahkan bermain fisik pun sudah menjadi makanan sehari-hari. Bagaimanakah kisahnya? Let's see!!
All Rights Reserved
#72
keraskepala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ain't Your Daddy (COMPLETED)
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Bapak, Ibu, Maafkan Aku
  • ANTAGONISTIC MOTHER ☑️(TRANSMIGRASI)REVISI
  • BUKAN PUALAM ~ Apakah Ini Surga?
  • Reynis Love
  • ARUNA STORY: Feel Again [Lengkap]
  • Aletta Inara [SUDAH TERBIT]
  • Transmigrasi Jadi Istri Duda (End)
  • NEVER CHANGE ME & YOU

Pernikahan Jamila Istari (30) dan Nadiem Arif Prakoso (38) sudah tiga tahun kandas, huru-hara dipicu oleh ketidak puasan Ami yang merasa kurang segala-galanya. Di zaman ini, di ekonomi yang begini, dia harus bertahan dengan Nadiem yang luntang-lantung setelah bisnisnya gulung tikar? Yang benar saja! Ami itu high maintenance! Belum lagi dia juga ikut menanggung hutang ibunya. Plus, ibu dan kakak Nadiem yang pelit pula. Di bayangan Ami, terbebasnya ia dari Nadiem bisa membuat kehidupannya lebih baik. Kenapa tidak? Toh, Ami punya gelar, kompeten, supel, cantik, ada pula harta gono-gini yang harus Nadiem berikan untuknya. Sudah sangat amat cukup, Ami bisa bekerja lagi dan menikmati uangnya seorang diri. Tapi nyatanya, tidak. Tiada beda, justru lebih berat, lebih parah, lebih menjengkelkan. Ami pusing, mual, mumet, apalagi setiap kali putrinya, Kanaya yang masih berusia tujuh tahun itu merengek-rengek ingin bertemu si Papi. "Mami ayooooooo! Kita cari Papi, aku mau Papi, kangen Papi, mau ketemu Papiiiiii!" "Papi kamu udah punya anak baru." "Haaaa! Mamiiiiii!" Rasanya Ami ingin menjerit dan bergulung-gulung saja!

More details
WpActionLinkContent Guidelines