Ellesia zivly seorang gadis cantik yang berasal dari Lampung, tengah pergi berlibur ke Bali usai ujian Nasional nya berakhir.
Orang tuanya telah tiada sejak dia berumur 12 tahun, orang tuanya mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan mereka pergi meninggalkan Elle untuk selamanya.
Pergi ke Bali dengan tujuan berlibur ke rumah adik dari ibunya, yang begitu menyayangi Elle.
Rencananya dia akan tinggal untuk sementara di rumah tantenya selama satu Minggu, setelah itu ia akan kembali ke kampung halamannya.
Tetapi semuanya tidak sesuai dengan apa yang direncanakan, karena ketika dirinya bertemu seorang pemuda bernama Rava Septiano, yang merubah semua rencananya.
******************
Rava Septiano seorang pemuda berumur 20 tahun, yang terjerumus dalam dunia hitam yang begitu menjadi candunya.
Tetapi juga perlahan seolah membunuhnya, disaat dirinya sedang terpuruk, datanglah seorang gadis cantik dengan tersenyum mengulurkan tangannya, seolah membantu Rava untuk bangkit.
Perempuan itu secara perlahan membantunya keluar dari dunia hitam yang terus menjeratnya.
Ia menyukainya, senyumnya, tawanya dan matanya yang cantik.
Tapi ia jugalah yang telah membuat senyum dan tawa gadis itu hilang, dan ia juga membuat mata yang cantik itu terus mengeluarkan air mata, ia brengsek dan tidak pantas untuk bersanding dengan gadis itu.
Apa yang telah dilakukan Rava?
Kenapa dia membuat Elle kehilangan senyum dan tawanya?
Dan bagaimana akhir kisah mereka?
Cusssssss lanjut bacaaa
"Yang nggak pernah benar-benar selesai, justru yang paling susah dilupakan." - Nayyara
Tujuh tahun.
Itu waktu yang Nayyara habiskan untuk mencoba sembuh-dari luka yang bahkan tak sempat diberi penutup. Luka yang diam-diam ia bawa sejak bangku kuliah kedokteran, hingga kini menyandang gelar spesialis.
Luka bernama Adrian Baskara-mantan yang pergi tanpa kata, tanpa perpisahan. Hanya hilang. Begitu saja.
Sialnya ketika ia merasa telah pulih, semesta mengajak bercanda.
Sebuah mutasi mendadak menjatuhkannya dari puncak karier di rumah sakit elit Jakarta ke pelosok desa di Jawa Tengah. Desa asing yang lebih percaya ramuan dukun ketimbang resep dokter, lebih patuh pada mitos ketimbang medis. Nayyara datang sebagai penyintas-asing, tersesat, nyaris patah.
Tapi ia bertahan. Ia belajar hidup dari nol. Ia kira, itu sudah cukup berat.
Sampai... Adrian muncul.
Kini pria itu berdiri di hadapannya-dengan senyum sabar, tatap mata yang dulu menenangkan, dan seorang anak kecil yang tak sengaja memanggilnya,
"Ayah."
Nayyara ingin pergi. Meninggalkan desa ini. Menjauh dari kenangan yang kembali bernyawa. Tapi hati bukan peta yang bisa digariskan lurus-lurus saja. Luka lama belum sembuh, rahasia lama belum selesai. Dan pertanyaan itu terus menghantui:
Kenapa Adrian pergi tanpa pamit dulu?
Dan... kalau cinta yang lama mati ternyata belum benar-benar terkubur,
bisakah Nayyara mencintai lagi-tanpa takut patah untuk kedua kalinya?