JENUH
  • WpView
    Reads 234
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 10, 2023
WpInfo
Fanfic
Fairy Tail
'𝙂𝙪𝙚 𝙜𝙖𝙠 𝙢𝙖𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨-𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙖𝙠𝙞𝙩𝙞𝙣 𝙡𝙤.' Salah satu kalimat klise yang sering dijadikan alasan orang, ketika ingin memutuskan hubungan secara sepihak. Padahal, nyatanya tidaklah demikian. Penyebab utama kandasnya sebuah hubungan, jika bukan karena bosan. Ya, karena perselingkuhan. _________ "Lo itu terlalu tolol untuk bisa menyadari bahwa gue cuma jadiin lo pelarian." "Lo itu terlalu mendambakan cinta. Hingga tanpa sadar, rasa cinta lo sendiri yang menjerumuskan lo ke dalam luka." ~𝘕𝘢𝘯𝘥𝘪 𝘞𝘪𝘫𝘢𝘺𝘢 𝘒𝘶𝘴𝘶𝘮𝘢 ________ "Jika bertahan itu menyakitkan. Lantas, apakah melepaskan adalah jalan yang tepat untuk dijadikan sebuah pilihan?" ~𝘒𝘢𝘯𝘢𝘺𝘢 𝘡𝘩𝘦𝘷𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘓𝘦𝘴𝘮𝘢𝘯𝘪
All Rights Reserved
#20
jenuh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • Farellio's [SELESAI]
  • Stres In Life
  • Dear Alfino (END)
  • We Are One
  • TANTAN ; with you [ ON GOING ]
  • Jingga dan Peluknya | Kim Taehyung FF
  • ANANTA [COMPLETED]
  • Tentang Rindu [Sudah Diterbitkan]
  • The Reason Of Love (2) [Fanfic]
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines