[Hidup]

[Hidup]

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 22, 2022
Entahlah, aku pun tidak mengetahuinya. Semuanya terasa sangat janggal. Kebenaran terasa kabur. Seolah-olah itu memang tidak terdefinisi. Satu langkah lagi menuju kedewasaan. Dan aku masih stagnan di posisi ini. Mencoba menalar keadaan. Tetapi selalu gagal dan berakhir mengenaskan. Ku pikir aku adalah yang paling benar. Tetapi memangnya kebenaran itu ada? Catatan Jack Hidup ~ Prolog
All Rights Reserved
#438
renungan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Komputer dan Gadis Itu
  • Dimensi Dramatikal
  • Mati Lebih Lama, Hidup Selamanya
  • Jatuh Cinta itu Luka
  • Tentang Rasa
  • Aksara Tak Bertuan
  • Lembut Seperti Doa
  • Cinta Berbalut Puisi
  • Aku Dan Kehidupan

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines