Vaginismus

Vaginismus

  • WpView
    Reads 56
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 17, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"Kamu tidak kasian sama suamimu? Kay menikah itu supaya bisa 'gituin' istrinya, ini malah dicoblos aja gak bisa. Udah! Lepasin aja Kay, supaya dapat wanita yang normal. Gak seperti kamu!" kata-kata culas yang dilontarkan mertua perempuannya itu, sangat menusuk hatinya. Sepertinya air mata sudah tidak bisa keluar lagi, karena terlalu sering mendapatkan hinaan atas ketidaksempurnaan tubuhnya itu. Penina hanya bisa diam dan merintih di dalam hatinya. Sebagai seorang penyintas Vaginismus, Penina sendiri tidak mengerti. Apa yang terjadi pada tubuhnya? Di mana kewanitaannya menolak bentuk sentuhan apapun. Bukan jenis kesakitan seperti perawan dalam mengalami malam pertamanya. Namun, kewanitaannya seperti membentuk benteng berupa otot-otot yang mengeras. Sehingga ia sangat kesakitan bila Kay suaminya, ingin melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami. Mampukah suami-istri ini mempertahankan mahligai rumah tangganya, di tengah ujian demi ujian yang kadang tidak tahan untuk mereka hadapi?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Blooming Lady [completed]
  • DANDELION (Aku bukan Orang Ketiga)
  • JODOH UNTUK PAK DOSEN
  • Martanita [END]
  • Timeless Bond: The Unfinished Symphony
  • MAS (Mertuaku Adalah Suamiku)/UPDATE
  • Halycon

"Katakan padaku bagaimana caranya berhenti mencintai seseorang yang bahkan tak pernah mencoba mencintaimu kembali?" Liana tak pernah bermimpi menjadi istri dari lelaki yang menatapnya seperti beban. Ia hanya gadis biasa, yang jatuh terlalu dalam pada laki-laki yang patah dan tak ingin diperbaiki. Pernikahan mereka tak dibangun dari cinta, tapi dari kesunyian yang tak diucapkan, dari janji-janji yang tak pernah dibuat, dan di dalam rahimnya, tumbuh seorang anak yang mungkin tak pernah dirindukan ayahnya. Di balik keheningan rumah yang dingin, di antara senyum pura-pura dan malam tanpa pelukan, Liana menulis surat-surat untuk anaknya. Ia tahu, dunia tak akan memberinya bahu untuk bersandar tapi ia ingin sang anak lahir dari seorang ibu yang pernah mencintai sepenuh hidup, meski dicintai tak pernah jadi bagiannya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines