Menurut Garis Takdir

Menurut Garis Takdir

  • WpView
    Reads 168
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 12, 2024
Kisah seorang wanita pejuang garis dua yang juga harus memperjuangkan pernikahan dan perasaan hatinya. • • • Arkan sedang merapikan kancing bajunya, Rein yang melihatnya segera menghampiri Arkan dan membantu merapikannya. "Tidak biasanya Rein, biasanya ia memilih menjauh dari ku" ujarnya dalam hati. Rein mulai membuka suaranya "Mas, kamu jaga kesehatan ya, aku ga mau lihat kamu sakit. Aku cuman pengen liat kamu bahagia, meskipun nantinya bukan sama aku." Entah Arkan yang sudah lama tidak mendengar suara Rein, tapi suara Rein kali ini sangatlah lembut. Raut wajahnya juga nampak lebih bahagia. Rein meraih tangan Arkan, ia mengecup lama tangan Arkan, seolah ia tidak bisa mengecupnya lagi. Rein memeluk Arkan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Being a Good Papa [ End ]
  • Angel To Raya (END)
  • Foggy Road (Completed 🌻)
  • ARKAN & ARINA (TAHAP REVISI)
  • Xless Marriage
  • Dear Imamku
  • Fated to Loved
  • Our Marriage
  • Secret Destiny

Apa penyesalan dalam hidup yang pernah kalian alami? Kalau Arthan ditanya seperti itu, maka dia akan menjawab ; Menjadi pria yang tidak berguna, sekaligus ayah yang gagal. Setidaknya Arthan ingin sekali dalam hidupnya, dia melakukan hal-hal yang membuat keluarganya bahagia. Namun, hidup yang hanya sekali itu, dia habiskan untuk hal-hal yang sesat. Berjudi, mengabaikan anaknya setelah ditinggal mati oleh istri, dan terlilit hutang hingga rentenir terus berdatangan. Lantas, pada malam dia dikejar oleh rentenir dan anaknya, Alberix, disandera oleh rentenir, Arthan tertabrak truk dan tubuhnya terhempas begitu saja di aspal, hingga aspal itu digenangi oleh darahnya yang menyebar kemana-mana. Malam dimana penyesalan terus berdatangan. Lalu, dengan begitu saja, Arthan menutup mata dengan perasaan bersalah yang menumpuk di dalam dada. Hingga ketika ia membuka mata, bukan alam Barzah lah yang ia lihat, tetapi wajah anaknya yang datar saat sedang melakukan sarapan bersama. Arthan spontan menyeletuk, "Alberuk?" Alberix langsung bombastic side eyes. "Alberix, pa. Not Alberuk, apalagi beruk."

More details
WpActionLinkContent Guidelines