NA SI MANUSIA PENUH LUKA

NA SI MANUSIA PENUH LUKA

  • WpView
    Membaca 124
  • WpVote
    Vote 18
  • WpPart
    Bab 10
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Okt 22, 2022
Na adalah aku, seperti judul yang ku tulis dalam posisi seorang na mungkin kamu juga sedang merasakannya atau bahkan telah atau bahkan sudah. Semuanya tentang diri yang harus menerima dengan ikhlas walaupun itu sulit dan sakit. Tetang semuanya, segala hal yang tak bisa di genggam atau bahkan yang sudah digenggam dan akhirnya jatuh juga. Tentang memahami segala hal yang bercover menyakitkan agar bisa mengungkap titik kebaikan, obat untuk hati yang semakin berantakan. Ini adalah rangkuman kejadian dengan adanya percakapan antara diri sendiri dan seseorang. Segala pandangan terhadap hal hal yang menguat karena perasaan, mengenai diri sendiri yang mencoba mendeskripsikan semua rasa yang menggantung meminta di jelaskan. Mengenai begitu banyak rasa yang tuhan berikan, mengenai memahami rasa sakit yang menemani untuk memberikan pemahaman.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#582
motivation
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Hopeless
  • Say you LOVE me
  • ON REMEMBERING
  • Letters for Self
  • Doctor Lil-Daddy [END]
  • Kamu berharap apa?
  • Berlutut atau Memohon ? : Lakukan Keduanya
  • Hide The Pieces (Slow Update)
  • It's Okay, Kamu Normal !
  • Sudut Luka Nazea
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan