Sejak bangkrutnya usaha milik ayahnya telah membuat dunia Dinda berubah menjadi 180 derajat. Betapa tidak, karena Dinda terbiasa hidup bergantung pada semua harta yang di berikan oleh kedua orangtuanya dan terlebih Dinda merupakan anak semata wayang.
Bullyan dan hinaan menjadi bumbu-bumbu pelengkap pada saat kehidupan barunya akan dimulai. Di tengah lika-liku perjalanan kehidupan yang Dinda hadapi, Dinda dipertemukan dengan pria yang dapat merubah cerita didalam hidupnya.
Pria tersebut bernama Dimas dan Zero, mereka berdua adalah sahabat Dinda yang memiliki tipe karakter yang sangat berbeda. Namun, Dimas dan Zero telah mampu membuat hidup Dinda tidak lagi bewarna hitam dan abu-abu.
Dimas setyo atau biasa Dinda memanggilnya dengan nama muka lempeng, bagi dinda sebutan itu sangat cocok di berikan kepadanya. Karena sikap dimas yang dingin, tidak memiliki rasa empati kepada seseorang, dan selalu membuat hidup Dinda tidak tenang.
Sedangkan Zero saputra atau biasa Dinda memanggilnya dengan nama Zero. Siapa yang tidak mengenal Zero, pria yang memiliki senyuman yang manis dengan bentuk rahang yang tegas dan kumis tipis.
Statusnya sebagai asisten dosen di jurusan nya membuat Zero memiliki banyak fans wanita, tentu banyak juga yang menaruh harapan untuk menjadi kekasihnya. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa Zero sendiri memiliki phobia yang bernama "caligynephobia", caligynephobia ini adalah sebuah phobia yang takut terhadap wanita.
Putaran bumi terasa tiba-tiba terhenti, ketika Dimas memaksa Dinda untuk menjadi kekasihnya. Tentu saja membuat Dinda merasa bingung dengan situasi seperti ini, karena Dinda diam-diam menaruh sayang dan harapan yang tinggi kepada Zero. Wanita mana yang tidak suka cowok baik dan pintar seperti Zero, disisi lain Dimas pun mulai menunjukkan dengan sungguh-sungguh perubahan sikapnya kepada Dinda.
Rasa bimbang terus menghampiri hati dan pikiran Dinda, didalam hatinya Dinda jelas tidak mau menjalin hubungan dengan Dimas.
Alle rechten voorbehouden