reverie; (夢)

reverie; (夢)

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 10, 2023
Sejak hari pertama Hera melihat seorang pemuda dengan baju pasien duduk seorang diri di bawah pohon besar tepat di depan jendela ruang inapnya. Ia mendapati dirinya sendiri melamun memikirkan pemuda tersebut sepanjang waktu. Meski tidak pernah ditanggapi dengan baik, Hera tetap saja menyimpan perasaan padanya. Rasanya Hera ingin menggenggamnya, menghancurkannya, memperbaikinya, lalu mencintainya hingga membuat pemuda itu sesak kehabisan nafas. Membuatnya tak berdaya dan hanya bergantung pada dirinya, hanya pada Hera. Kehidupan Cyan yang terasa hambar dan membosankan perlahan-lahan mulai berubah ketika Hera masuk ke dunianya. Namun, apa jadinya jika kisah mereka berdua tidak direstui dunia?
All Rights Reserved
#91
familyissues
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • I Win, Baby ✔ [Warren Series #1]
  • Sangkar si Biru [On Going]
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Merajut asa
  • Repihan Rasa (Selesai)
  • When You Heal My Heart (HEEJAKE) END
  • Deru Tresna Aruna

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines