ALONE

ALONE

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 26, 2022
Aku bertahan di sini untuk siapa? Keluarga? Sahabat? Kekasih? Teman? Atau bahkan orang yang membenciku? Sepertinya tidak dari diantaranya. Aku bertahan untuk diriku sendiri. Mungkin aku memiliki banyak orang-orang terdekat di kehidupanku, tapi entah mengapa mereka seperti tidak ada disampingku. Dunia yang begitu luas dan besar ini, mengapa aku selalu merasakan kesendirian. Di tempat ramai yang sering orang orang kunjungi, melihat banyak orang berkeliaran disekitar ku tidak membuat ku hidup. Aku TETAP merasakan kesendirian, kesepian. Bahkan ketika aku memunculkan rasa percaya ku terhadap apa itu sahabat, apa itu kekasih, dan apa arti keluarga dalam hidupku. Nyatanya aku tetap merasakan kesendirian. Aku sering mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Mengapa takdirku seperti ini? Apakah aku tidak pantas untuk bahagia? Untuk tersenyum? Menikmati hangatnya bersama keluarga, sahabat dan orang orang terkasihku? Tapi aku mengingat kembali, apa yang sudah aku berikan kepada-Nya, aku terlalu banyak meminta sedangkan aku belum cukup mampu berbakti kepada sang Pencipta. Akankah aku menemukan kebahagianku? Tuhan tolong bantu aku, bantu aku bisa merasakan senyum bahagia, aku ingin melepas semua bebanku, aku ingin bersuara sehingga tidak ada beban yang menumpuk. Hanya itu, apakah bisa?
All Rights Reserved
#24
queensha
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • ALVIN (On Going)
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • Misunderstand
  •  ANATHA
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • DENTING  [Revisi]
  • Nayara [ TERBIT ]
  • [✔️terbit] 1. The Girl That Hurt
  • I'm okay (END)
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines