How To Smile (On Edit)

How To Smile (On Edit)

  • WpView
    Reads 2,297
  • WpVote
    Votes 151
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 23, 2017
WpInfo
Fanfic
1Direction
Apa yang akan kau lakukan saat kau telah di diagnosa mengidap penyakit mematikan? Lompat dari gedung? Oh. Terlalu bodoh. Memutus urat nadi? Terlalu menyiksa diri Menghabiskan waktu dibawah guyuran air? Sayang, ini bukan drama televisi. Bagaimana dengan menceritakannya kepada orang terkasih? Tapi apa yang harus dilakukan jika orang tersebut justru menghianatimu? Bagai jatuh lalu tertimpa tangga. Tapi bagaimana pula jika hadir sosok yang membantu kau seperti seorang malaikat? Malaikat yang akam mengajarkanmu bagaimana untuk tersenyum.
All Rights Reserved
#258
cancer
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • STUCK✖️l.p
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • [END] WHAT WE HAVE PASSED TOGETHER?
  • I Missing You (COMPLETED)
  • Summertime Sadness ➸ n.h
  • Poignant Friendship
  • Pathetic 2 ✓
  • SAGARA | Lee Haechan (END)
  • Breathe
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines