Egaliter

Egaliter

  • WpView
    LECTURES 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., juin 30, 2022
ega·li·ter /égalitér/ a bersifat sama; sederajat. Zara mencintai sahabatnya. Tak kurang, tak lebih. Ia rela memberikan segalanya untuk sahabat nya itu. Termasuk harga dirinya. Masalahnya, ia dan sahabatnya sama-sama perempuan. Wanita. Ia yang hidup di keluarga religius jelas mengerti bahwa perasaannya ini terlarang. Ia tentu tidak mau membuat orang tuanya malu memiliki anak yang menyimpang sepertinya. Waktu pun berlalu. Disaat Zara berusaha dengan kuat menutupi perasaannya dan memilih untuk mencintai sahabatnya dalam diam, Ia malah mendapatkan pengakuan tak terduga. Bagaimana Zara akan menyikapinya? Start = 2022 Sampul = by me Cr picture = The Photo Argus (found at pinterest)
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Not Me & Not Mine
  • True Love?
  • Vortex✔️
  • Cyara's Harem [End]
  • My Softie Ex Boyfriend [End]
  • Waktu Awan dan Rembulan
  • Zarah
  • The Boy Who Can Lactating [End]
  • Our Light

Tak ada kesalahan tanpa adanya sebuah perbuatan, begitu pula dengan kisah Zara dan Rafif-dua hati yang, entah bagaimana caranya, selalu kembali bertaut meski diwarnai begitu banyak perbedaan. Zara, seorang perempuan yang selalu berusaha memahami, menerima Rafif apa adanya, termasuk sifat kekanak-kanakannya yang sering kali membuatnya menghela napas panjang. Setiap kali dia menunjukkan sisi inner child-nya di saat-saat yang tak terduga, Zara tak bisa menahan diri untuk menyipitkan mata, menatapnya dengan ekspresi antara geli dan tidak percaya. "Kamu selalu bilang bisa menerima aku apa adanya, tapi tiap aku bersikap begini, ekspresimu langsung berubah," Rafif bersedekap, bibirnya mengerucut seakan protes. Zara mendesah pelan, menyilangkan tangan di dada. "Bagaimana tidak? Kadang kamu bisa bertingkah seperti anak kecil, bahkan di tempat umum," ucapnya, setengah gemas setengah tak habis pikir. Cinta mereka bukanlah kisah yang selalu berjalan mulus. Ia tumbuh dengan caranya sendiri-kadang seperti bunga liar yang mekar tanpa aturan, kadang seperti lukisan abstrak yang penuh warna namun sulit untuk didefinisikan. "Ambil sepatumu dan pakai, Rafif. Di tempat seperti ini pun kamu tetap saja menyusahkan," ujar Zara, matanya melirik ke arah kaki Rafif yang masih telanjang di lantai dingin. Rafif terkekeh kecil, tidak tergesa-gesa mengambil sepatunya. "Aku cuma menunggu kamu dulu sebelum pakai sepatu," katanya ringan. Zara menghela napas lagi. "Aku pergi sebentar beli makanan, bukan pergi selamanya," ia menyodorkan sesuatu pada Rafif. Sekejap mata Rafif berbinar begitu melihat apa yang ada di tangannya. "Wah! Es krim kesukaan kita! Aku mauu~" serunya penuh semangat, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah. IG/aqieff_bhlwn Tiktok/elsyaqief

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu