[Teen Fiction]
Bagaimana rasanya menjadi yang teratas; ketika semua pandangan hanya tertuju padamu, ribuan mata seakan-akan menyiratkan kebanggaan yang sanggup membuat jantungmu meledak oleh euforia. Menyenangkan bukan?
Sama, aku juga bertanya-tanya mengenai perasaan sederhana itu.
Hanya bertanya-tanya tanpa pernah bisa berdiri di posisi itu, memandang dari jauh dengan atma yang tengah menahan rasa cemburu, menjadi sosok yang begitu prihatin.
Bagaimana rasanya menjadi dia?
Pertanyaan itu terjawab tepat jalinan benang merah menjerat tanpa aba-aba di dalam ruangan bernama hati; berbicara mengenai kepedulian, rasa sakit, dan prasangka.
Ameliorate (v): to make something bad better
Rating: 15+
TW: Self-harm, suicidal thoughts.
[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.]
We all here have our own struggles.
Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi.
Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome.
Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan.
Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya.
"Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul."
-Twenty One Pilots-