BIPOLAR
  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 3, 2022
Luka kian bertambah, sementara bertahan hanya karena takut karma. padahal itu sudah pasti akan aku rasa. Hari ini aku menerima kenyataan bahwa kepergian mu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Air mata yang kemarin sempat keruh lalu mengalir lagi seperti biasa. Aku kira akan bahagia yang aku dapat ternyata hanya luka dan air mata mengalir tiada batas. Ingin menyerah tapi apa daya tubuh ku kaku akan rasa trauma takut mengenal orang baru diluar sana, takut terluka kesekian kalinya. Aku tak bahagia, aku terluka, aku hilang arah bahkan aku saat ini seperti orang gila yang tak punya logika. Aku terlalu mencintai dia sampai lupa melibatkan logika saat mencintai manusia. Rasa sakit yang dia beri seakan tidak aku rasa, luka yang dia tabur seakan hampa di lidah, semua terasa semu seakan mati suri yang akan bangun lagi mengulang cerita yang sama. Kini aku merabah mencoba melangkah untuk lari dari kenyatan cerita pahit yang saat ini aku terima. Mengapa semua seakan tidak pernah berpihak pada ku. Apakah nasib ku yang malang atau mungkin ini karma yang harus aku terima? #BIPOLAR
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • AKHIR SEBUAH PENANTIAN
  • TAK BERSAMBUT
  • seribu tanya tak terjawab
  • Backstreet
  • SECOND LEAD
  • Another Me
  • Cinta Tapi Cinta?
  • My Bad Girl #BadSeries✔
  • Perjalanan Cintaku...

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines