Death Feel

Death Feel

  • WpView
    Reads 335
  • WpVote
    Votes 53
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 27, 2023
Aku melihat mu dibawah bangunan ini, memandang mu dengan sorot sayu ketika melihatmu dibawah guyuran hujan deras. Apa yang sebenarnya kamu tunggu? Apa yang sebenarnya kamu cari? Tubuhmu menggigil kala itu, tapi untuk bergerak barang sejenak pun kamu enggan. Aku ingin menghampiri dan mendekap tubuhmu yang kedinginan, tapi aku hanya mampu berdiri dengan senyum masam ketika melihat mu tersenyum di rengkuhan gadis itu. Sial! Tak seharusnya aku menangisimu, pada dasarnya kamu adalah luka yang aku buat sendiri aku hanya tak mampu untuk menghapus perasaan sialan ini. Aku yang terlalu mencintai mu, aku yang terlalu menginginkanmu tanpa sadar aku membubuhkan noda besar di tanganku. Maafkan aku tak seharusnya aku mencintai orang seperti mu, karena pada saat terakhir aku memutuskan hidupku pun, kamu hanya memandang ku dengan sorot dingin tak berperasaan. Jika, kehidupan kedua ada buatlah aku menjadi manusia yang tak memiliki perasaan-
Creative Commons (CC) Attribution
#152
histori
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Setelah Kelahiran Kembali, Putri Sulung Yang Sebenarnya Mulai Menyeduh Teh Hijau
  • That Lady, With All Her Secrets
  • Gandakusuma
  • Tyndomére Eclipse
  • Chosen ( 1 )
  • I Will Change My Destiny
  • ASRAR [TERBIT]

Update setiap hari❗️ Li Zhizhi dibawa kembali ke ibu kota pada usia lima belas tahun untuk mengenali akar leluhurnya. Sebagai putri tertua sejati dari keluarga Li, dia seharusnya dihargai. Namun, semua orang lebih menyukai Li Suwan, yang berpengetahuan, sopan, dan pintar. Adapun Li Zhizhi, dia dibesarkan di desa terpencil dan miskin, tidak tahu cara-cara dunia, dan namanya bahkan membawa rasa jijik. Suatu malam, Li Zhizhi bermimpi di mana dia kembali ke keluarga Li di kehidupan sebelumnya dan mati-matian bersaing dengan Li Suwan untuk mendapatkan bantuan. Dia belajar dengan rajin, unggul dalam sastra, musik, lukisan, dan etiket, melampaui Li Suwan dalam setiap aspek. Tetapi pada hari itu, sementara semua orang menghibur Li Suwan, Li Zhizhi masih menjadi orang yang dibenci. Ketika dia bangun, Li Zhizhi pergi menemui ayahnya, matanya merah, dan berkata, "Ayah, tolong kirim aku kembali ke pedesaan. Begitu saya kembali ke mansion, kesehatan kakak saya memburuk. Itu pasti karena saya memiliki nasib buruk yang telah menyakitinya." Ayah Li Zhizhi terkejut dan berkata, "Mengapa kamu mengatakan hal-hal seperti itu? Suwan hanya sakit. Dia akan pulih setelah menemui dokter." Benar saja, beberapa hari kemudian, penyakit Li Suwan membaik. Dia menyaksikan Li Zhizhi berpura-pura patuh dan polos, berpegang teguh pada paham berbagai tokoh berpengaruh, makmur di ibu kota. Permaisuri memperlakukannya sebagai putri angkat, wanita bangsawan memperlakukannya sebagai saudara perempuan, selir yang disukai di istana menganggapnya sebagai teman dekat, dan dia bahkan menerima gelar putri daerah. Pria yang tak terhitung jumlahnya yang tertarik padanya tidak dapat dihitung hanya dengan satu tangan Xiao Yan menunggu dan menunggu, tetapi Li Zhizhi tidak pernah mencari dukungannya. Tidak tahan lagi, dia akhirnya bertanya padanya, "Apakah kamu ingin menjadi Putri Mahkota?" Li Zhizhi tidak mau.

More details
WpActionLinkContent Guidelines