Tanah Haram

Tanah Haram

  • WpView
    Leituras 48,134
  • WpVote
    Votos 3,497
  • WpPart
    Capítulos 28
WpMetadataReadConcluída seg, nov 28, 2022
Mendapat juara dua dalam parade menulis yang diselenggarakan Penerbit Nahwa. Demi konten, Ferdi, Nabila, dan Joni rela memasuki tempat berbahaya. Mereka mendatangi Tanah Haram, sebuah hutan belantara yang kerap dijadikan sebagai tempat bunuh diri. Penampakan seorang mayat yang tergantung di pohon menjadi pertanda dimulainya rentetan kejadian mengerikan selanjutnya. Mereka mulai dihantui oleh penampakan menyeramkan penunggu hutan. Namun, di balik itu semua, ada rahasia yang akhirnya terbongkar. Sebuah rahasia yang menjadi cikal-bakal dimulainya teror.
Todos os Direitos Reservados
#139
setan
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • RUMAH SINTA
  • TAGIHAN PERJANJIAN LAMA - DESA HAWA TIIS || 97L
  • ILMU HITAM (COMPLETED)
  • 35 Hari Teror Ibu (TAMAT)
  • THE MYSTERY ( Revisi )
  • Ave Satanas (Terpujilah Setan) [TAMAT]
  • SILUMAN PENYERAP USIA: DAAYAN
  • Kemah Terakhir: Diambang Dunia Gaib
  • MISANTHROPE

"Kapan lagi dapat tempat creepy kaya gini" - (Ipang) "Dia ga nyanyi lagi, tapi malah seperti merintih..." - (Jon) "Dia biasa dipanggil Sinta sama orang-orang kantor. Kadang muncul di ruangan atas, kadang duduk di tangga, kadang mondar-mandir juga di sini, di pantri" - (Ucun) "Asal lu tahu, pegawai-pegawai sini memang sukanya cerita-cerita mistis, serba klenik. Yang ngga ada seolah-olah dibikin ada, seakan-akan nyata" - (Andri) "Dari awal datang ke sini memang sudah merasakan hawa yang nggak enak, nggak bersahabat. Ternyata betul perkiraan gue, rumah ini ada setannya!" - (Dedi) "Sebab aura negatif di tempat ini tidak lebih jahat dari hati orang-orangnya". Sesosok jiwa yang masih terikat jerat-jerat duniawi, membuatnya terus bergentayangan di setiap sudut ruangan. Meski bukan lagi rumahnya, ia tetap betah bersemayam di antara lalu-lalang orang-orang untuk merintih, meratapi masa lalu. Malam adalah gerbang, hening jadi mantra pengundang. Ia akan tiba. Sinta, kami biasa menyebutnya...

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo