Nala dan senja

Nala dan senja

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 10, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Binar matanya menyembunyikan semua yang ia rasa. 'Aku perlu terlihat nyata, tak perlu sembunyikan luka' Kataku berbisik ketika melihat nelangsa itu datang dari ujung sana. 'tepat sasaran' katamu sambil terus bersorak ria, seolah belati yang menusuk tepat di jiwaku adalah hal yang membanggakan bagimu. Hatinya terbelah, sesuatu yang kita tau tak akan pernah kembali utuh. Air matanya masih terus mengalir, semakin deras. Ingin sekali rasanya ia berteriak, mengandai andai setelahnya bisa membuat ia sedikit lega. Dadanya sesak, napasnya memburu kencang, tapi nyaringnya tetap kalah dengan jeritan dalam hatinya. Kenyataan itu berhasil meremukannya Perkenalkan, aku Nala. Si kelabu menjelma jingga
All Rights Reserved
#146
nala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • CLAUSTRUM || End✓
  • My Eternal Moon [ End ✔️]
  • Derena
  • Bukan Kita D.A.N
  • Cahaya Rona Bianglala
  • Arsyilazka
  • Aneyra -after meet you
  • verlies
  • INDIRAKSA

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines