MATA TEDUH MAIRA

MATA TEDUH MAIRA

  • WpView
    Reads 4,705
  • WpVote
    Votes 311
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 6, 2025
" Ulangi!!!!!, buat dengan benar, sebelum laporan yang baru ada dimeja saya , Jangan harap bisa Pulang!!" " baik pak " " Dan kamu Maira, Sudah berapa tahun kamu kerja disini?" " hampir 4 tahun pak " " dengan waktu selama itu kamu masih tidak paham cara kerja saya?" " lagi pula sebelum ke saya semua laporan itu kan di Kasih ke kamu dulu, memang nya kamu gak bisa ngarahin mereka ?" Maira menunduk sembari memilin Ujung Khimarnya ^^^^^^^ " apa kamu punya syarat atau Kriteria Khusus Tentang itu?" Lagi lagi Maira memberi Respon Kaget. " apa Anda berniat Menjodohkan saya dengan seseorang ?" " t..tidak, Bukan Begitu, tolong dijawab saja " Adnan ikut terkejut dengan pertanyaan itu, Mati pun ia tidak akan pernah menjodoh kan Maira dengan Laki laki lain Maira diam, Ia tidak bermaksud Melanjutkan topik melenceng ini " apa Kamu akan bermasalah dengan laki laki yang berusia 28 tahun? Apa itu cukup tua untuk mu?" Tanya Adnan gugup " pak, Saya akan kembali lagi nanti, Ekspresi anda tidak cukup baik sekarang, Saya akan minta Wahyu membawakan Kopi untuk anda " ucap Maira berdiri. ___________ Halo halooo, Author males buat deskripsi, jadi penggalan cerita aja yaaaa.. Semoga sukaa, tolong di baca di vote dan di komen yaa, Terima kasih
All Rights Reserved
#530
adnan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Home (Completed) (Repost)
  • 𝙼𝙰𝙽𝚃𝚄-𝙰𝚋𝚕𝚎✔
  • C I N (T) A (COMPLETE)
  • Reason
  • Kekasih Halalmu [SUDAH TERBIT]
  • (menuju) Jodoh Halalku [TAMAT]
  • Oh, My Sugarman
  • JODOH salah ngomong
  • Ingkar 🌿|| Ending
  • ALA

"Siapa barusan? Kok enggak disuruh masuk dulu?" ayah kini mengalihkan fokusnya padaku. "Teman Yah. Tadinya mau turun tapi aku bilang gak usah, gak enak udah malem," kataku lalu berjalan meninggalkan ayah. "Harusnya suruh masuk dulu, biar ayah tahu kamu berteman sama siapa?" katanya lagi. Aku memutar mataku jengah. Lalu berbalik menghadap ayah. Lalu berjalan mendekatinya. Menggelayutkan tanganku di tangan kekar laki-laki paruh baya yang selalu merasa khawatir padaku, seakan-akan aku ini masih gadis kecilnya. Satu hal yang ayah lupa aku kini sudah berusia 26 tahun dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Ayah, dia itu bukan siapa-siapa! Ayah gak usah khawatir kakak udah 24 dan bisa jaga diri," kataku sambil menggiring ayah masuk ke dalam rumah. Kudengar ayah menghela nafasnya, "Kamu itu permata ayah satu-satunya, harus benar-benar ayah jaga, karena ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu," katanya. Aku mengelus lengan ayah, "Ayah gak usah khawatir! Kakak gak akan buat ayah kecewa," kataku lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kemudian melepaskan lenganku yang menggamit menutup pintu depan dan memastikannya agar terkunci rapat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines