Di antara keramaian dunia, Elind memilih mencintai dari kejauhan. Bukan karena takut, tapi karena tahu, beberapa perasaan lebih aman jika disimpan sendiri. Diamnya bukan tanpa suara di dalam hatinya, setiap tatapan, setiap senyum, bahkan setiap langkah orang yang ia cintai menjadi puisi yang hanya ia baca dalam sunyi.
Hari-hari mereka dipenuhi kebetulan yang terasa seperti takdir duduk di bangku yang sama tanpa saling menyapa, tersenyum tipis saat pandangan bertemu, saling mengerti tanpa satu kata pun terucap. Singkat, tapi cukup untuk membuat hati Elind berdebar seperti rumah yang baru ditempati.
Namun, kisah indah itu harus berakhir sebelum sempat dimulai. Sebuah jarak yang tiba-tiba tercipta, sebuah kenyataan yang memisahkan mereka tanpa peringatan. Yang tertinggal hanyalah ingatan tajam dan membekas. Elind belajar, bahwa mencintai dalam diam adalah seni menyembunyikan luka di balik kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan, sekaligus terlalu menyakitkan untuk diingat.
All Rights Reserved