Biarkan Aku Membencimu [NEW VERSION]

Biarkan Aku Membencimu [NEW VERSION]

  • WpView
    reads 139
  • WpVote
    Stemmen 28
  • WpPart
    Delen 10
WpMetadataReadVoor volwassenenLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd vri, aug. 5, 2022
"𝓑𝓪𝓱𝓪𝓰𝓲𝓪, 𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓵𝓾𝓴𝓪. 𝓟𝓸𝓵𝓪 𝓽𝓪𝓴𝓭𝓲𝓻 𝓼𝓮𝓹𝓮𝓻𝓽𝓲 𝓲𝓷𝓲 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓽𝓮𝓻𝓳𝓪𝓭𝓲 𝓭𝓪𝓵𝓪𝓶 𝓱𝓲𝓭𝓾𝓹𝓴𝓾." 𝓔𝓵𝔂𝓸𝓼𝓱 𝓐𝓶𝓫𝓻𝓸𝓼𝓲𝓾𝓼 𝓖𝓪𝓷𝓮𝓷𝓭𝓻𝓪. ◕◕◕◕ Elyosh tidak tahu kenapa Yuda selalu membenciya. Kakak yang selalu diharapkan bisa tersenyum dan akan menyayanginya, semakin membuat kecewa dan bertambah hancur. Membuatnya perlahan merasa lelah, bahkan selalu ingin menyerah karena sang luka terus menghantamnya tanpa rasa ampun. Ingin mengadu, entah pada siapa. Elyosh bahkan tidak tahu di mana kedua orang tuanya. Nama mereka, bahkan wajahnya saja ia tak tahu. Tujuh tahun berlalu, kini Elyosh sudah menjadi seorang remaja yang duduk dibangku SMA. Seiring dengan tubuhnya yang semakin tinggi, siapa sangka jika ia mulai berpikir untuk membenci Kakaknya dan memberontak. Bukan keinginannya, tapi hati itu sudah tidak sanggup jika terus diam saat Yuda menyakitinya. Namun, hal gila tiba-tiba terjadi dan membuatnya tak bisa membedakan antara surga dan neraka, nyata atau tidak, realita atau bayangan, yang pasti, itu sebuah trauma yang tercipta karena luka yang terus menusuknya. Bagaimana dengan sikap Yuda saat tahu jika adiknya memiliki sebuah trauma, yang jelas sekali sebab trauma itu karena dirinya. Akankah dia berubah, atau tetap menggenggam benci dan mendorong adiknya pada neraka. Lalu, sebenarnya apa yang membuat Yuda selalu membenci Elyosh sampai menciptakan trauma gila yang membuat adik bungsunya beberapa kali menyerah pada sang takdir? Akhir bahagia ataupun luka, doakan saja menjadi jalan yang terbaik untuk keduanya. ◕◕◕◕ ◕Versi lain dari FF 'Biarkan Aku Membencimu, Hyung!' ◕All story by Fakih Ratnasari ◕Cover by pinterest FOLLOW ME ON WATTPAD, TWITTER AND INSTAGRAM (@fakih_rs13) personal account.
Alle rechten voorbehouden
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • Don't Leave Me (TAMAT)
  • Strong Girl Michella (END)
  • Bukan Cerita Kita
  • Rumah Untuk Pulang
  • Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END)
  • Let Me Love You Longer
  • ALKANTARA || END || Belum Revisi
  • 𝑨𝒌𝒔𝒂𝒓𝒂 𝑫𝒊 𝑳𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕 𝑷𝒂𝒔𝒖𝒏𝒅𝒂𝒏

Baca DeKaNa terlebih dahulu, ini S2 nya DeKaNa🔥 "M-maksudnya apa?" Ekspresi wajah yang semula terlihat senang berganti menjadi rawut wajah yang amat tidak disukai, seolah perubahan mimik wajah mempengaruhi suasana hati sang pemilik Perlahan sudut bibirnya ketarik ke pinggir membentuk lekungan senyuman yang terlihat menyeramkan bagi remaja yang berdiri di hadapannya, bahkan bola matanya terlihat bergetar melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya. "Hanya seminggu" Kakinya perlahan melangkah mendekati remaja yang sudah membeku di tempat itu, mengayunkan tangannya untuk mengusap puncak kepala yang lebih muda "Sayang sekali, Khai nggak panggil Ayah-" Plak Ia menatap tangannya kemudian menatap anak yang lebih muda di hadapannya dengan alis mata terangkat, berani, sangat berani "L-lo gila" "Lo bawa gue kemana hah anjing?" Ia memejamkan matanya, sudah seminggu ini hatinya berbunga-bunga, namun sekarang api neraka kembali membakar hatinya mendengar lontaran perkataan dari anak muda yang ada di hadapannya. Srett "Kenapa lo diam aja hah?, jawab!, lo bawa kemana gue hah?" Teriaknya dengan nafas tersenggal-senggal karena perasaan marah. Ia kembali tersenyum, mencoba mengusap puncak kepala itu namun tepisan kembali dirinya dapat, oke cukup, ia sudah sangat sabar kali ini, "Askar ternyata nggak guna" Perlahan kaki itu mendekati remaja itu, lalu mengusap paksa kepala itu dengan kuat, dan dalam sekali tarikan ia berhasil membuat tulang tengkorak itu bersentuhan kasar dengan dinding rumah kokoh miliknya "Lo manja banget ya Kai, semua harus gue yang turun tangan" Ucapnya sembari menyeringai melihat ekspresi wajah Kaivan yang terlihat kesakitan sekaligus marah karena tidak bisa melawan.Tubuh itu jatuh telentang di lantai, dan tanpa belas kasihnya, ia menaruh telapak kakinya di atas dada Kaivan yang seketika membuat anak itu meringis sakit karena tak mampu menahan rasa sakit lagi "A-abang" "Kalau udah kek gini, baru manis diliat" 19 April 25

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen