İçerik Kurallarımızı güncelledik.
Hikâyeleri güvenli bir şekilde paylaşmaya devam etmek için en güncel kuralları inceleyin.
Daha fazla bilgi
MENDADAK KAYA SETELAH DIHINA

MENDADAK KAYA SETELAH DIHINA

  • WpView
    OKUNANLAR 7
  • WpVote
    Oylar 0
  • WpPart
    Bölümler 1
WpMetadataReadDevam ediyor
WpMetadataNoticeSon yayınlanan Cum, Tem 15, 2022
WpInfo
KURGU OLMAYAN
"Kamu mau nikahin anak saya cuma modal kontol doang, hah?" "Kamu pasti ngincer harta saya kan? Biar nanti kalau saya mati, kamu bisa menguasai semua harta anak saya satu-satunya ini!" "Papah!" Ucapan Om Darwin yang bernada tuduhan sekaligus hinaan itu seketika membangkitkan hawa panas di dalam dadaku. "Papah gak seharusnya bicara begitu! Salman bukan laki-laki seperti itu, Pah." Nadia berusaha membelaku di hadapan papanya. Gadis itu bahkan mulai menangis. "Kamu jadi perempuan jangan bodoh, Nadia! Kita ini orang terpandang, beda sama mereka." "Terpandang? Di mata Tuhan yang membedakan kita itu cuma amalan, Pah, bukan harta atau jabatan!" Nada bicara gadis itu makin meninggi di sela isak tangisnya. "Berani kamu menggurui Papah, hah?" Mata kupejamkan rapat-rapat, hati yang sudah retak kugenggam kuat-kuat. Aku menunduk diam, sebisa mungkin tetap menahan diri agar tidak terbawa emosi dan balik menyerang Om Darwin.
Tüm hakları saklıdır
En büyük hikaye anlatıcılığı topluluğuna katılınKişiselleştirilmiş hikaye önerileri alın, favorilerinizi kütüphanenize kaydedin ve topluluğunuzu büyütmek için yorum yapın ve oy verin.
Illustration

Ayrıca sevebilecekleriniz

  • DI DUAKAN KEMUDIAN AKU DI DEWIKAN
  • ADA PELANGI DI UJUNG WAKTU
  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Menikahi Sahabat Ibuku
  • Shaffira ✔ (KBM & KARYAKARSA)
  • Dandelion [Proses Revisi]
  • CENGKRAMAN DIRGA'S
  • Ikhtiar Menjemput Cinta [REVISI + END]
  • Hati Yang Retak || Alwi Assegaf [End]✔

Gibran: "Sayang.. mas minta maaf, kamu jangan diam saja seperti ini, silah kan tampar atau kamu pukul saja badan mas sayang". Suara mas Gibran terdengar serak sambil menahan tangis. Terlihat mukanya merasa sangat bersalah. Mendengar perkataan mas Gibran, aku yang tadinya diam seperti robot, tiba-tiba mulai bereaksi dengan emosi yang memuncak. Tanpa sadar tanganku melayang menampar pipi mas Gibran. Kemudian aku memukul dadanya beberapa kali. Beliau kaget tapi tidak berusaha membalas perlakuanku kepadanya. "Aku benar-benar tidak menyangka mas!, kamu tega, sangat tega!. Semua perlakuanmu, kasih sayangmu bahkan semua perhatianmu selama ini ternyata palsu!", teriakku sambil menangis pada mas Gibran. "Kamu benar-benar jahat!". "apa kesalahanku sampai kamu setega ini mas!". "Aku benci sama kamu!". Teriakku kencang sambil memukul-mukul dadaku sendiri. Mas Gibran hanya diam melihat luapan emosiku yang memuncak. Kemudian tangannya berusaha memelukku, tapi aku langsung menepis tangannya menghindar, kemudian menjauh ke pojok tempat tidur.

Daha fazla bilgi
WpActionLinkİçerik Rehberi