The Slut

The Slut

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 26, 2026
[ BLURB ] Semua orang menginginkan Gaurika Jaan. Seorang Tawaif paling tersohor di seluruh negeri-seniman yang dielu-elukan, wanita yang membuat para Nawab rela menghamburkan peti-peti emas hanya untuk menyaksikan satu tarian dan mendengar satu lantunan suaranya. Namun, Hanya satu lelaki yang tidak. Sebuah festival istana selama tujuh hari tujuh malam mempertemukannya dengan Ranveer, ajudan Kaisar yang menerima Gauri sebagai hadiah atas kesetiaannya. Tak seorang pun mengetahui bahwa di balik pengabdiannya, Ranveer menyimpan identitas sebagai musuh yang diam-diam merencanakan kejatuhan sang penguasa. Tujuh hari itu hanyalah permulaan. Permulaan dari sebuah kisah yang akan menguji harga diri, kesetiaan, dan cinta. "Seharusnya aku ingat... bahwa kita tidak mungkin bersama, Ranveer." - Gaurika "Jangan berharap kisah romantis dariku, Gauri. Tujuanku berada di istana ini bukanlah dirimu." - Ranveer Pada akhirnya, mana yang akan gugur lebih dulu? Hati... atau takhta? ♤♤♤ Cerita ini fiktif dan hanya dibangun atas imajinasi author, Beberapa foto/gambar yang dimasukkan dalam cerita diambil dari pinterest ♡
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines