ZOYA: End Of Beginning

ZOYA: End Of Beginning

  • WpView
    Reads 1,320
  • WpVote
    Votes 214
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 6, 2023
Ini tentang bagaimana aku mengenang dan bagaimana aku dikenang. Tentang kehilangan dan kembali menemukan. Tentang kenangan yang tak pernah mengulang. Yang kukira dengan berjalannya waktu dapat menyembuhkan luka yang ada namun nyatanya aku salah. Bahkan waktu yang terus bergerak hanya mengeringkan luka tapi tak benar-benar menghapus bekasnya. Bahkan rasa luka itu masih sering berlalu lalang dengan jelas. Lalu bagaimana aku menyembuhkan luka yang tertinggal itu jika waktu saja tidak mampu menyembuhkannya? "Dan kali ini aku benar-benar menyerah. Aku pergi ya...aku akan melewatkan takdirku kali ini" ~Zoya A. Fandertan "Tentang bagaimana perasaanku biarkan saja seperti ini. Perasaanku sepenuhnya milikku jadi jangan paksa aku untuk hal yang sepenuhnya milikku" ~ Werillion Lumiér G. "Aku pergi untuk menyelamatkan hatiku dan menyelamatkan sebagian jiwaku yang tersisa, tapi setelah semuanya aku justru semakin kesakitan" ~ Darrél G. Leciél "Aku hanya ingin pulang, apa memang sungguh tidak ada tempat untukku pulang? Aku tidak berharap banyak, aku hanya butuh satu tempat yang bisa menerimaku untuk pulang dan meletakkan jiwaku". "Aku lelah terlihat baik-baik saja, aku lelah membuat orang lain tersenyum, aku sedih aku terluka, apa sungguh tak bisakah mereka melihat itu? Aaagh,,,, tentu karna pada dasarnya mereka tak pernah sungguh-sungguh menganggapku ada. Karena aku hanya sekedar figuran tak penting di hidup mereka". ________________
All Rights Reserved
#21
teenageromace
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • I'm broken [BHS#1]✓
  • Hopeless
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Devaul • completed
  • Some Kind of Love [DISCONTINUED]
  • Cerita Tentang Kita
  • Same But Different (Hiatus)
  • As Time Allows

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines