Arsyad Muzaffar Abqary, pria dengan umur 24 itu memiliki alergi terhadap uang logam. Meski hanya tersentuh sedikit, tubuh Arsyad langsung bereaksi dengan menimbulkan ruam merah, panas dan juga perih, namun untungnya tak berbekas.
Suatu hari, ia tak sengaja bertemu dengan seorang gadis cantik yang jauh dari umurnya. Tidak hanya sekali, namun berulang kali. Kebetulan? Mungkin bisa di bilang begitu, Namun, ketika mereka berjodoh, apakah itu juga kebetulan? Sepertinya, akan lebih tepat jika di sebut takdir, ya, TAKDIR.
Arsyad, pria itu tanpa sadar menyimpan perasaan terhadap gadis yang di temuinya secara berulang itu. Namun, Arsyad terus mengelak bahwa ia mencintainya. Seperti istilah psikologi, Accismus, Berpura-pura tidak suka padahal sangat menyukainya.
Perbedaan bukan untuk diperdebatkan⎯tapi dipertemukan.
Arsala dan Alzena adalah dua sisi dari lembar kehidupan yang sama, tapi ditulis dengan gaya yang berbeda.
Arsala dingin, Alzena cuek.
Arsala pintar, Alzena lambat nangkap.
Arsala hafal 30 juz, Alzena baru khatam juz 30 Al-Quran.
Arsala anak pemilik pesantren, Alzena bahkan belum pernah menginjak bangku pesantren.
Arsala tidak suka permen, Alzena anti coklat. Sama-sama aneh? Bisa jadi.
Namun, meski dunia mereka tak pernah sejalan, Arsala selalu mencair saat bersama Alzena. Ada sesuatu dalam diri gadis sederhana itu yang membuat semua prinsip dan dinginnya perlahan runtuh.
Tapi, di balik sorot matanya yang kalem, Arsala menyimpan rahasia. Bukan rahasia biasa⎯melainkan sesuatu yang bisa mengubah hubungan mereka selamanya.
Bagaimana rasanya diberi kepastian oleh seorang Gus?
Dan apa yang akan Alzena lakukan saat tahu bahwa semua ini bukan sekadar kebetulan?