Arsyad Muzaffar Abqary, pria dengan umur 24 itu memiliki alergi terhadap uang logam. Meski hanya tersentuh sedikit, tubuh Arsyad langsung bereaksi dengan menimbulkan ruam merah, panas dan juga perih, namun untungnya tak berbekas.
Suatu hari, ia tak sengaja bertemu dengan seorang gadis cantik yang jauh dari umurnya. Tidak hanya sekali, namun berulang kali. Kebetulan? Mungkin bisa di bilang begitu, Namun, ketika mereka berjodoh, apakah itu juga kebetulan? Sepertinya, akan lebih tepat jika di sebut takdir, ya, TAKDIR.
Arsyad, pria itu tanpa sadar menyimpan perasaan terhadap gadis yang di temuinya secara berulang itu. Namun, Arsyad terus mengelak bahwa ia mencintainya. Seperti istilah psikologi, Accismus, Berpura-pura tidak suka padahal sangat menyukainya.
JANGAN LUPA FOLLOW YA...
terimakasih sudah mampir
Ada cinta yang tidak perlu diumbar,
cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan.
Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh.
Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan.
Dia pernah singgah.
Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi.
Pernah menjadi orang yang paling aku percaya.
Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh.
Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda...
Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku.
Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi.
Mungkin kami sedang menguji takdir.
Atau... mungkin takdir sedang menguji kami.
Karena jika benar cinta ini suci,
maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki.
Cukup dipercayakan kepada Allah.
Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya,
aku ingin bertanya satu hal:
"Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"